Pertolongan Pertama Pada Penderita Keracunan Pestisida

Pertolongan Pertama pada Penderita Keracunan Pertisida - Pestisida sangat berbahaya bagi manusia, bahkan bisa menyebabkan kamatian. Padahal...

Pertolongan Pertama pada Penderita Keracunan Pertisida - Pestisida sangat berbahaya bagi manusia, bahkan bisa menyebabkan kamatian. Padahal bagi petani, pestisida hampir menjadi santapan keseharian, terutama saat melakukan budidaya tanaman yang membutuhkan perawatan intensif, seperti budidaya cabe, budidaya tomat, budidaya melon, budidaya semangka, dll. Pestisida sangat berbahaya bagi manusia, terutama masalah kesehatan. Pestisida bisa masuk melalui kulit, saluran pernapasan bahkan tertelan melalui mulut.

Para pelaku budidaya agribisnis, baik budidaya pertanian, perikanan, peternakan, maupun perkebunan hendaknya mewaspadai bahaya pestisida. Kecerobohan pada saat penyemprotan menyebabkan tubuh kita mengalami keracunan pestisida. Keracunan pestisida pada manusia menunjukkan gejala yang berbeda-beda, tergantung pada jenis bahan aktif pestisida yang meracuni. Gejala keracunan biasanya tertera pada kemasan, sehingga disarankan jangan memindahkan pestisida pada tempat lain apalagi wadah kosong yang orang lain tidak bisa mengetahuinya dengan pasti. Usahakan pestisida selalu pada kemasannya. Hal ini sangat penting untuk menentukan penanganan lebih lanjut saat mengalami keracunan pestisida.

Pada saat kita mengetahui seseorang mengalami keracunan pestisida, kita dapat memberikan pertolongan pertama pada penderita, sebelum dibawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Lakukan langkah-langkah berikut :
  1. Saat memberikan pertolongan, hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah kita tidak boleh terlihat panik. Harus setenang mungkin agar dapat berpikir untuk melakukan tindakan yang paling tepat dan cepat.
  2. Amati secara cermat, jika kulit korban terkena pestisida, buka pakaian dan segeralah cuci sampai bersih dengan air dan sabun.
  3. Jika mata korban terkena pestisida, cuci dengan air yang banyak selama 15 menit, utamakan pencucian menggunakan air pancuran agar pestisida lebih cepat terbawa air.
  4. Jika pestisida tertelan dan korban masih sadar, buatlah korban muntah dengan memberikan larutan air hangat yang telah dicampur dengan garam dapur sebanyak 1 sendok makan penuh. Jika pestisida tertelan, perlu diperhatikan bahwa jangan sekali-kali memberikan pernapasan buatan dari mulut ke mulut.
  5. Jika pestisida tertelan dan korban tidak sadar, jangan dirangsang muntah, sangat berbahaya. Jika pestisida tertelan, jangan berikan pernapasan buatan dari mulut ke mulut.
  6. Jika pestisida tertelan, dan fungisida dari senyawa tembaga, penderita jangan dirangsang muntah, rangsanglah untuk buang air besar atau bilas lambung.
  7. Jika berhenti bernapas, segera bikin pernapasan buatan. Pastikan mulut bersih dari air liur, lendir, atau makanan yang menyumbat pernapasan.
  8. Jangan memberikan susu atau makanan berminyak pada korban keracunan organoklorin, karena pemberian susu atau makanan berminyak justru akan menambah penyerapan organoklorin oleh organ pencernaan.
  9. Jika korban tidak sadar, usahakan jalan pernapasan tidak terganggu. Bersihkan mulut dari air liur, lendir, atau makanan. Jika korban memakai gigi palsu, lepaskan gigi palsu. Kemudian letakkan korban pada posisi tengkurap, dengan kepala menghadap ke samping dan bertumpu pada kedua tangannya yang ditekuk.
  10. Jika penderita mengalami kejang, maka usahakan tidak ada yang membuat korban cidera. Taruh bantal di bawah kepala korban, lalu longgarkan pakaian di sekitar leher. Ganjal mulut agar korban tidak menggigit bibir dan lidahnya.
  11. Setelah itu bawalah segera penderita ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Tunjukkan kemasan pestisida yang telah meracuninya kepada para medis agar dapat ditentukan dengan cepat penanganan yang paling tepat.

Demikianlah langkah-langkah yang perlu dipahami dalam memberikan pertolongan pertama pada penderita keracunan pestisida, sehingga menghindari hal-hal yang tidak diinginkan baik bagi penderita maupun penolong, tanpa mengurangi nilai manfaat bagi penderita keracunan pestisida.

Budidaya Jeruk

Budidaya Jeruk - Tanaman jeruk adalah tanaman buah tahunan berasal dari Asia. Cina dipercaya sebagai tempat pertama kali jeruk tumbuh. Seja...

Budidaya Jeruk - Tanaman jeruk adalah tanaman buah tahunan berasal dari Asia. Cina dipercaya sebagai tempat pertama kali jeruk tumbuh. Sejak ratusan tahun lalu, jeruk sudah tumbuh di Indonesia baik secara alami maupun dibudidayakan. Tanaman jeruk di Indonesia sebagian besar merupakan peninggalan jaman penjajahan Belanda, mereka mendatangkan jeruk manis dan jeruk keprok dari Amerika dan Italia.

CARA MENANAM JERUK

Prospek agribisnis jeruk di Indonesia sebenarnya cukup bagus mengingat Indonesia memiliki potensi lahan produksi subur dan luas. Namun pengetahuan petani mengenai budidaya jeruk masih sangat minim sehingga hasil produksi jeruk belum memenuhi permintaan konsumen. Melalui program peningkatan kualitas sumberdaya petani serta didukung hasil inovasi teknologi pemupukan, pengelolaan hama dan penyakit terpadu, serta sistem budidaya lainnya diharapkan mampu meningkatkan Kuantitas maupun Kualitas produksi jeruk di Indondesia. Cara menanam jeruk secara baik dan benar sangat menunjang keberhasilan budidaya jeruk, namun sebelum berbicara lebih lanjut, alangkan baiknya kalau kita mengenal sedikit tentang jeruk dan sentral penanaman jeruk di Indonesia.

KLASIFIKASI TANAMAN JERUK

Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rutales
Keluarga : Rutaceae
Genus : Citrus
Spesies : Citrus sp.

SENTRA PENANAMAN JERUK

Sentra penanaman jeruk di Indonesia tersebar di berbagai wilayah, meliputi : Garut (Jawa Barat), Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu (Jawa Timur), Tejakula (Bali), Selayar (Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat) dan Medan (Sumatera Utara). Karena adanya serangan virus CVPD (Citrus Vein Phloen Degeneration), beberapa sentra penanaman jeruk mulai mengalami penurunan produksi secara signifikan.

Adapun jenis jeruk lokal yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jeruk keprok (Citrus reticulata/nobilis L.), jeruk siem (C. microcarpa L. dan C.sinensis. L), jeruk manis (C. auranticum L. dan C.sinensis L.), jeruk sitrun/lemon (C. medica), jeruk besar (C.maxima Herr.), jeruk nipis (C. aurantifolia), jeruk purut (C. hystrix) serta jeruk sambal (C. hystix ABC).

MANFAAT JERUK

  1. Manfaat jeruk dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia salah satunya adalah sebagai makanan buah segar maupun makanan olahan, dimana kandungan vitamin C pada buah ini sangat tinggi.
  2. Manfaat jeruk di bidang Industri terutama banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan minyak. Di Beberapa negara telah diproduksi minyak dari kulit dan biji jeruk, gula tetes, alkohol serta pektin dari buah jeruk yang terbuang. Minyak kulit jeruk ini dipakai untuk membuat minyak wangi, sabun wangi, esens minuman serta bahan campuran kue.
  3. Manfaat jeruk bagi kesehatan terutama terdapat pada buah jeruk nipis. Jeruk nipis banyak dimanfaatkan sebagai obat herbal alami untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti batuk, penurun panas, pereda nyeri saluran napas bagian atas, penyembuh radang mata, dll.

SYARAT TUMBUH TANAMAN JERUK

Tanaman jeruk memerlukan 6-9 bulan basah (musim hujan), curah hujan 1000-2000 mm/th merata sepanjang tahun, air yang cukup terutama di bulan Juli-Agustus. Temperatur optimal untuk pertumbuhan tanaman jeruk antara 25-30°C, kelembaban optimum sekitar 70-80%. Kecepatan angin lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga maupun buah. Ketinggian optimum antara 1-1200 m dpl. Tanaman jeruk merupakan salah satu jenis tumbuhan yang menyukai tempat terbuka tanpa naungan selama proses budidayanya, karena sinar matahari langsung sangat membantu meningkatkan produktivitas tanaman. Jenis tanah Andosol atau Latosol sangat cocok untuk budidaya jeruk, derajat keasaman tanah (pH tanah) berkisar 5,5-6,5. Air tanah optimal pada kedalaman 150-200 cm di bawah permukaan tanah, sedangkan di musim kemarau 150 cm, musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air berkandungan garam sekitar 10%, serta dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan kemiringan sekitar 300.

Ketinggian tempat penanaman jeruk sangat bervariasi, tergantung spesies yang dibudidayakan. Untuk Jenis jeruk Keprok Madura maupun Keprok Tejakula optimal ditanam di ketinggian 1–900 m dpl. Keprok Batu 55, Keprok Garut : 700-1.200 m dpl. Jeruk Manis Punten, Waturejo, WNO, VLO: 300–800 m dpl. Jeruk Siem: 1–700 m dpl. Jeruk Besar Nambangan-Madiun, Bali, Gulung: 1–700 m dpl. Jeruk Jepun Kasturi, Kumkuat: 1-1.000 m dpl. Jeruk Purut: 1–400 m dpl.

PEMBIBITAN TANAMAN JERUK

Teknik Generatif

Biji diambil dari buah dengan cara memeras buah yang telah dipotong kemudian dianginkan di tempat yang tidak terkena sinar selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang. Media semai dalam polibag adalah campuran pupuk kandang dan sekam (perbandingan 2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir (perbandingan 1:1:1).

Teknik Vegetatif

Metode yang lazim dilakukan adalah penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (onderstam/rootstock) yang dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran tahan serangan penyakit akar seperti busuk akar maupun nematoda, daya adaptasi lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus. Varietas batang bawah yang biasa digunakan oleh penangkar adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange atau Carizzo citrange.

BUDIDAYA JERUK

Persiapan Lahan Budidaya Jeruk

Tanaman jeruk ditanam di tegalan tanah sawah/di lahan berlereng. Jika ditanam di suatu bukit perlu dibuat sengkedan/teras. Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari tanaman lain atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk. Jenis jeruk keprok dan siem : jarak tanam 5 x 5 m. Jenis jeruk manis : jarak tanam 7 x 7 m. Jenis jeruk sitrun (Citroen) : jarak tanam 6 x 7 m. Jenis jeruk nipis : jarak tanam 4 x 4 m. Jenis jeruk grape fruit : jarak tanam 8 x 8 m. Jenis jeruk besar : jarak tanam (10-12) x (10-12) m.

Lubang tanam hanya dibuat pada tanah yang belum diolah, dibuat 2 minggu sebelum tanam. Tanah bagian dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas tanah (25 cm). Tanah berasal dari lapisan atas dicampur pupuk kandang sebanyak 20 kg. Setelah penanaman, tanah dikembalikan lagi ke tempat asalnya. Bedengan (guludan) berukuran 1 x 1 x 1 m hanya dibuat jika jeruk ditanam di tanah sawah.

Teknik dan Cara Menanam Jeruk

Bibit jeruk dapat ditanam setelah memiliki 6-8 helai daun pada musim hujan atau dapat juga ditanam di musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, namun sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan:
1) Pengurangan daun maupun cabang yang berlebihan.
2) Pengurangan akar.
3) Pengaturan posisi akar agar jangan ada yang terlipat.
Setelah bibit ditaman, siram secukupnya, serta tutup mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas penyakit di sekitarnya. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang untuk menghindari penyakit busuk batang. Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan/sayuran. Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput/tanaman legum penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman jeruk.

PEMELIHARAAN TANAMAN JERUK

Penyulaman Budidaya Jeruk

Penyulaman tanaman jeruk dilakukan pada tanaman yang tidak tumbuh.

Penyiangan Budidaya Jeruk

Penyiangan dilakukan dengan cara membersihkan gulma sesuai frekuensi pertumbuhannya. Biasanya dilakukan sebelum melakukan pemupukan.

Pembubunan Budidaya Jeruk

Pembumbunan perlu dilakukan untuk menjaga agar akar tidak muncul ke permukaan karena hal ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman, akar menjadi tidak berfungsi dengan baik. Jika budidaya jeruk dilakukan pada tanah berlereng, perlu diwaspadai terjadinya erosi tanah.

Pemangkasan Budidaya Jeruk

Pemangkasan bertujuan untuk membentuk tajuk pohon serta menghilangkan bagian cabang yang sakit, kering serta tidak produktif/tidak diinginkan. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4 tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya. Bekas luka pangkasan dioles menggunakan fungisida atau lilin agar terhindar dari serangan bankteri maupun cendawan (jamur). Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam Klorox/alkohol. Bagian ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.

Pemupukan Budidaya Jeruk

Pemupukan tanaman setelah penamanan adalah sebagai berikut (gram/tanaman) :
a) Umur tanaman 1 bulan: Pupuk urea=100; ZA=200; TSP=25; ZK=100; Dolomit=20; Pupuk kandang=20 kg/tan.
b) Umur tanaman 2 bulan: Pupuk urea=200; ZA=400; TSP=50; ZK=200; Dolomit=40; Pupuk kandang=40 kg/tan.
c) Umur tanaman 3 bulan: Pupuk urea=300; ZA=600; TSP=75; ZK=300; Dolomit=60; Pupuk kandang=60 kg/tan.
d) Umur tanaman 4 bulan: Pupuk urea=400; ZA=800; TSP=100; ZK=400; Dolomit=80; Pupuk kandang=80 kg/tan.
e) Umur tanaman 5 bulan: Pupuk urea=500; ZA=1000; TSP=125; ZK=500; Dolomit=100;
Pupuk kandang=100 kg/tan.
f) Umur tanaman 6 bulan: Pupuk urea=600; ZA=1200; TSP=150; ZK=600; Dolomit=120;
Pupuk kandang=120 kg/tan.
g) Umur tanaman 7 bulan: Pupuk urea=700; ZA=1400; TSP=175; ZK=700; Dolomit=140;
Pupuk kandang=140 kg/tan.;
h) Umur tanaman 8 bulan: Pupuk urea=800; ZA=1600; TSP=200; ZK=800; Dolomit=160;
Pupuk kandang=160 kg/tan.
i) Umur tanaman 8 bulan: Pupuk urea 1000; ZA=2000; TSP=200; ZK=800; Dolomit=200;
Pupuk kandang=200 kg/tan.

Pengairan dan Penyiraman Budidaya Jeruk

Penyiraman jangan menggenangi batang akar. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman digemburkan lalu ditutup mulsa.

Penjarangan Buah Budidaya Jeruk

Pada tahun dimana pohon jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung pertumbuhan dan bobot buah serta kualitas buah teta terjaga. Buah dibuang adalah buah sakit, buah tidak terkena sinar matahari (di dalam kerimbunan daun) serta kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama, sisakan hanya 2-3 buah.

HAMA TANAMAN JERUK

Hama Kutu Loncat (Diaphorina citri)

Bagian tanaman yang diserang adalah tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda.
Gejala:
Tunas keriting, tanaman mati.
Pengendalian:
Buang bagian tanaman terserang hama kutu loncat. Penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif dimethoate, monocrotophos, imidakloprid, abamektin, atau endosulfan. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kutu Daun (Toxoptera citridus aurantii, Aphis gossypii)

Bagian tanaman yang diserang adalah tunas muda maupun bunga.
Gejala:
Daun menggulung, akan membekas sampai daun dewasa.
Pengendalian:
Penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif methidathion, dimethoate, diazinon, phosphamidon, malathion, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Peliang Daun (Phyllocnistis citrella)

Bagian tanaman yang diserang adalah daun muda.
Gejala:
Alur melingkar transparan atau keperakan, tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok.
Pengendalian:
Penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif methidathion, malathion, diazinon, profenofos, sipermetrin, betasiflutrin, atau klorpirifos. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Kemudian daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.

Hama Tungau (Tenuipalsus sp., Eriophyes sheldoni Tetranychus sp.)

Bagian tanaman yang diserang adalah tangkai, daun maupun buah.
Gejala:
Bercak keperakperakan atau coklat pada buah dan bercak kuning atau coklat pada daun.
Pengendalian:
Penyemprotan menggunakan insektisida/akarisida berbahan aktif, cyhexation, dicofol, oxythioquimox, dicarbam, atau abamektin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Penggerek Buah (Citripestis sagittiferella)

Bagian tanaman yang diserang adalah buah.
Gejala:
Terdapat lubang yang mengeluarkan getah.
Pengendalian:
Penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif methomyl, methidathion, fipronil, atau deltametrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Buah terserang dipetik lalau dimusnahkan.

Hama Kutu Penghisap Daun (Helopeltis antonii)

Gejala:
Bercak coklat kehitaman dengan pusat berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya cairan buah yang menjadi nekrosis.
Pengendalian:
Penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif fenitrotionmothion, fenithion, metamidofos, methomil, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Penggerek Bunga dan Puru Buah (Prays sp.)

Bagian tanaman yang diserang adalah kuncup bunga jeruk manis atau jeruk bes.
Gejala:
Bekas lubang-lubang bergaris tengah 0,3-0,5 cm, bunga mudah rontok, buah muda gugur sebelum tua.
Pengendalian:
Penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif methomyl, methidathion, profenofos, atau sipermetrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Kemudian buang bagian tanaman terserang.

Hama Thrips (Scirtotfrips citri)

Bagian tanaman yang diserang adalah tangkai maupun daun muda.
Gejala:
Helai daun menebal, tepi daun menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering, lalu gugur, bekas luka berwarna coklat keabu-abuan kadang-kadang disertai nekrotis.
Pengendalian:
Menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari masuk ke bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif difocol, propargite, abamektin, asetamiprid, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kutu Dompolon (Planococcus citri)

Bagian tanaman yang diserang adalah tangkai buah.
Gejala:
Berkas berwarna kuning, mengering dan buah gugur.
Pengendalian:
Penyemprotan menggunakan insektisda berbahan aktif methomyl, triazophos, carbaryl, atau methidathion. Kemudian cegah datangnya semut yang dapat memindahkan kutu. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Lalat Buah (Dacus sp.)

Bagian tanaman yang diserang adalah buah hampir masak.
Gejala:
Lubang kecil di bagian tengah, buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah.
Pengendalian:
Pemasangan alat perangkap sexpheromone menggunakan Methyl-Eugenol atau protein Hydrolisate. Penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif fenthion, dimethoathe, atau klorfenapir. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kutu Sisik (Lepidosaphes beckii Unaspis citri)

Bagian tanaman yang diserang daun, buah dan tangkai.
Gejala:
Daun berwarna kuning, bercak khlorotis, gugur daun. Pada gejala serangan berat terlihat ranting dan cabang kering, kulit retak, buah rontok.
Pengendalian:
Penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif diazinon, phosphamidon, dichlorophos, atau methidhation. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kumbang Belalai (Maeuterpes dentipes)

Bagian tanaman yang diserang adalah daun tua pada ranting atau dahan bagian bawah.
Gejala:
Daun gugur, ranting muda kadang-kadang mati.
Pengendalian:
Sanitasi kebun, kurangi kelembaban perakaran. Kemudian gunakan insektisida carbaryl, atau diazinon. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

PENYAKIT TANAMAN JERUK

Penyakit CVPD

Penyebab:
Bacterium like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri.
Bagian tanaman yang diserang adalah silinder pusat (phloem) batang.
Gejala:
Daun sempit, kecil, lancip, buah kecil, asam, biji rusak, pangkal buah berwarna oranye.
Pengendalian:
Gunakan varietas unggul sehat bebas CVPD. Selain itu penempatan lokasi kebun minimal 5 km dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan insektisida untuk mengendalikan serangga vektor serta lakukan sanitasi kebun.

Penyakit Tristeza

Penyebab:
Virus Citrus tristeza dengan vektor Toxoptera.
Bagian tanaman yang diserang jeruk manis, nipis, besar dan batang bawah jeruk Japanese citroen.
Gejala:
Lekuk batang, daun kaku pemucatan, vena daun, pertumbuhan terhambat.
Pengendalian:
Sanitasi kebun, memusnahkan tanaman terserang, kemudian kendalikan serangga vektor.

Penyakit Woody Gall (Vein Enation)

Penyebab:
Virus Citrus Vein Enation dengan vektor Toxoptera citridus, Aphis gossypii.
Bagian tanaman yang diserang: Jeruk nipis, manis, siem, Rough lemon dan Sour Orange.
Gejala:
Tonjolan tidak teratur tersebar pada tulang daun di permukaan daun.
Pengendalian:
Gunakan mata tempel bebas virus serta lakukan sanitasi di sekitar areal penanaman, serta pengendalian serangga vektor.

Penyakit Blendok

Penyebab:
Fungi Diplodia natalensis.
Bagian tanaman yang diserang adalah batang atau cabang.
Gejala:
Kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu jadi keabu-abuan, kulit kering lalu mengelupas.
Pengendalian:
Pemotongan cabang terinfeksi, bekas potongan diberi karbolineum atau fungisida Cu. dan fungisida Benomyl 2 kali dalam setahun.

Penyakit Embun Tepung

Penyebab:
Fungi Odidium tingitanium.
Bagian tanaman yang diserang adalah bagian daun maupun tangkai muda.
Gejala:
Tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda.
Pengendalian:
Penyemprotan menggunakan fungisida berbahan aktif pyrazophos, bupirimate, atau metil-tiofanat. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Kudis

Penyebab:
Fungi Sphaceloma fawcetti.
Bagian tanaman yang diserang adalah daun, tangkai atau buah.
Gejala:
Bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye.
Pengendalian:
Pemangkasan secara teratur, penyemprotan menggunakan fungisida berbahan aktif makozeb, propineb, Benomyl atau simoksanil. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Busuk Buah

Penyebab:
Penicillium spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae.
Bagian tanaman yang diserang adalah buah.
Gejala:
Terdapat tepung-tepung padat berwarna hijau kebiruan pada permukaan kulit.
Pengendalian:
Hindari kerusakan mekanis, celupkan buah ke dalam air panas atau fungisida berbahan aktif propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Lakukan pelilinan buah serta pemangkasan bagian bawah pohon.

Penyakit Busuk Akar dan Pangkal Batang

Penyebab:
Phyrophthoranicotianae.
Bagian tanaman yang diserang adalah bagian akar maupun pangkal batang serta daun di bagian ujung dahan berwarna kuning.
Gejala:
Tunas tidak segar, tanaman kering.
Pengendalian:
Pengolahan, pengairan yang baik, sterilisasi tanah saat melakukan penanaman, buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah. Penyemprotan menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil, propamokarb hidroklorida, famoksadon atau metalaksil. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Buah Gugur Prematur

Penyebab:
Fusarium sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp.
Bagian tanaman yang diserang adalah bagian buah maupun bunga
Gejala:
2–4 minggu sebelum panen buah gugur.
Pengendalian:
Penyemprotan menggunakan fungisida berbahan aktif benomyl, metiltiofanat, karbendazim, atau klorotalonil. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Jamur Upas

Penyebab:
Upasia salmonicolor.
Bagian tanaman yang diserang adalah batang.
Gejala:
Retakan melintang pada batang serta keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas.
Pengendalian:
Kulit terinfeksi dikelupas lalu dioles fungisida carbolineum. Kemudian potong cabang terinfeksi.

Penyakit Kanker Jeruk

Penyebab:
Bakteri Xanthomonas campestris Cv. Citri.
Bagian tanaman yang diserang adalah daun, tangkai, buah.
Gejala:
Bercak kecil berwarna hijau-gelap atau kuning di sepanjang tepi, luka membesa seperti gabus pecah (diameter 3-5 mm).
Pengendalian:
Penyemprotan menggunakan fungisida berbahan aktif tembaga. Selain itu untuk mencegah serangan ulat peliang daun adalah mencelupkan mata tempel ke dalam 1.000 ppm Streptomycin selama 1 jam.

PANEN JERUK

Ciri jeruk siap panen :
Buah jeruk dipanen saat masak optimal, biasanya berumur antara 28–36 minggu, tergantung jenis/varietasnya. Buah dipetik menggunakan gunting pangkas.

Perkiraan Produksi
Rata-rata tiap pohon dapat menghasilkan 300-400 buah per tahun, kadang-kadang sampai 500 buah per tahun tergantung perawatan maupun varietas. Produksi jeruk di Indonesia sekitar 5,1 ton/ha masih di bawah produksi di negara subtropis yang dapat mencapai 40 ton/ha.

PASCAPANEN

Pengumpulan, Penyortiran dan Penggolongan Buah Jeruk
Di kebun, buah dikumpulkan di tempat teduh dan bersih. Pisahkan buah bermutu rendah, memar serta buang buah rusak. Sortasi dilakukan berdasarkan diameter dan berat buah tergantung permintaan pasar. Namun umumnya pasar menginginkan jeruk terbagi dalam 4 grid. Kelas A adalah buah berdiameter dan memiliki berat terbesar sedangkan kelas D memiliki diameter dan berat terkecil.
Penyimpanan Buah Jeruk. Untuk penyimpanan buah jeruk, gunakan tempat sehat, bersih dengan temperatur ruangan 8-100C.

Pengemasan Buah Jeruk
Sebelum pengiriman, buah dapat dikemas di dalam keranjang bambu/kayu tebal yang tidak terlalu berat untuk kebutuhan lokal serta kardus untuk ekspor. Pengepakan jangan terlalu padat agar buah tidak rusak. Buah disusun sedemikian rupa sehingga di antara buah jeruk ada ruang udara bebas tetapi buah tidak dapat bergerak. Wadah untuk mengemas jeruk berkapasitas 50-60 kg.

Budidaya Jahe

Budidaya Jahe - Jahe dengan nama ilmiah Zingiberaceae merupakan keluarga temu-temuan, sama halnya dengan temu-temuan lainnya seperti temu ...

Budidaya Jahe - Jahe dengan nama ilmiah Zingiberaceae merupakan keluarga temu-temuan, sama halnya dengan temu-temuan lainnya seperti temu hitam (Curcuma aeruginosa), temu lawak (Cucuma xanthorrizha), kencur (Kaempferia galanga), kunyit (Curcuma domestica), lengkuas atau laos (Languas galanga) dan lain-lain. Pada artikel pendek ini kami akan membahas beberapa hal tentang jahe, diantaranya adalah klasifikasi tanaman jahe, deskripsi jahe, jenis jahe, manfaat jahe, serta budidaya jahe.

KLASIFIKASI TANAMAN JAHE

Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Zingiber officinale

DESKRIPSI TANAMAN JAHE

Tanaman Jahe merupakan salah satu jenis tanaman berbatang semu, tanaman ini memiliki bentuk daun memanjang dan berpasangan dengan panjang berkisar antara 15-25 cm, panjang tangkai daunnya antara 2-4 cm, tangkai daun tanaman jahe memiliki bulu halus, sedangkan lidah daunnya tidak berbulu, berbentuk memanjang kurang lebih 7,5-10 cm, seludang agak berbulu. Tinggi tanaman jahe dapat mencapai 30 cm, bahkan hingga 1 m jika ditanam di tempat yang subur dengan unsur hara yang memenuhi kebutuhan tanaman. Rimpang jahe berwarna coklat muda, dengan daging berwarna kuning muda atau jingga tergantung varietasnya.

Bunga jahe berupa malai berbentuk bulat telur yang sempit atau terkadang menyerupai tongkat dengan panjang 2,75–3 kali lebarnya. Malai ini keluar langsung di permukaan tanah, sangat tajam dan memiliki panjang 3,5–5 cm, lebar 1,5–1,75 cm, sedangkan tangkai bunganya memiliki panjang 25 cm sedikit berbulu, rahis berbulu jarang, pada tangkai bunga terdapat sisik dengan panjang 3–5 cm, berjumlah 5–7 buah saling berdekatan, berbentuk lanset, hampir tidak berbulu, daun pelindung memiliki panjang 2,5 cm, lebar 1–1,75 cm, berbentuk bundar telur terbalik dan bundar pada ujungnya, tidak berbulu, mahkota bunga berbentuk tabung 2-2,5 cm, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, helainya agak sempit, panjang 1,5-2,5 mm, lebar 3-3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12-15 mm, kepala sari berwarna ungu dengan panjang 9 mm, tangkai putik berjumlah 2.

JENIS JAHE

Jahe gajah atau jahe badak

Jahe gajah atau sering juga dikenal dengan naman jahe badak ini memiliki rimpang yang lebih besar dan gemuk dari jenis jahe lainnya. Tanaman ini lebih disukai para petani karena cara pemanenannya lebih mudah meskipun seringkali harga jahe gajah jauh lebih murah jika dibandingkan dengan jahe emprit atau jahe merah. Karena produktivitasnya lebih tinggi biasanya mampu menutup selisih harga dari keduanya. Jahe gajah dapat dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.

Jahe putih atau jahe emprit

Jenis jahe putih atau jahe emprit biasanya memiliki harga yang lebih baik di pasaran, namun karena ruas rimpangnya kecil menjadi kurang disukai oleh para pengusaha pertanian, apalagi jahe putih atau jahe emprit ini selalu dipanen setelah berumur tua sehingga waktu pemanenannya lebih lama. Jahe emprit lebih banyak dimanfaatkan sebagai ramuan obat tradisional karena kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga memiliki rasa lebih pedas. Selain itu, kandungan seratnya pun lebih tinggi. Jahe putih kecil atau jahe emprit ini juga sering diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya oleh para industri jamu.

Jahe merah atau jahe wulung

Jahe merah atau lebih dikenal dengan nama jahe wulung oleh orang jawa, memiliki bentuk rimpang yang hampir sama dengan jahe putih atau jahe emprit. Namun warnanya berbeda, rimpang dan daging jahe merah berwarna merah. Sama halnya dengan jahe emprit, jahe merah pun selalu dipanen setelah tua sehingga waktu panennya lebih lama. Kandungan minyak atsiri jahe merah setara dengan jahe kecil atau jahe emprit, sehingga sangat cocok untuk ramuan obat-obatan.

MANFAAT TANAMAN JAHE

Jahe dengan berbagai varietasnya seringkali dimanfaatkan sebagai bumbu masak oleh para ibu rumah tangga, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman. Selain itu, tanaman jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi jahe instan, asinan, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Dewasa ini para petani cabe memanfaatkan jahe sebagai pestisida alami untuk menglangsungkan budidaya pertanian, tentunya ketika harganya sedang murah di pasaran sehingga dapat menekan input yang dikeluarkan. Dalam sektor perdagangan, jahe juga dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk maupun awetan jahe. Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak astiri dan koresin yang diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagai bahan pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis dan lain-lain.

Manfaat lain dari jahe ini secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), antimuntah, pereda kejang, antipengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, antiinflamasi, antimikroba dan parasit, antipiretik, antirematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu.

SENTRA BUDIDAYA JAHE

Budidaya tanaman jahe dibudidayakan di seluruh Indonesia, ditanam di kebun dan di pekarangan. Pada saat ini jahe telah banyak dibudidayakan di Australia, Srilangka, Cina, Mesir, Yunani, India, Indonesia, Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan. Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas tertinggi, sedangkan India merupakan negara produsen jahe terbesar, yaitu lebih dari 50 % dari total produksi jahe dunia.

CARA BUDIDAYA JAHE

Syarat Tumbuh Tanaman Jahe

Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun. Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan intensitas cahaya matahari 70-100%. Dengan kata lain budidaya tanaman jahe sebaiknya dilakukan di tempat terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari. Suhu udara optimum budidaya jahe antara 20-35°C. Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah subur, gembur dan banyak mengandung humus. Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik. Tanaman dapat tumbuh pada pH Tanah sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0. Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2.000 mdpl. Di Indonesia, pada umumnya budidaya jahe dilakukan pada ketinggian 200-600 mdpl.

Pembibitan Jahe

Persyaratan Bibit Jahe

Bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh tinggi), dan mutu fisik. Mutu fisik adalah bibit bebas hama dan penyakit. Rimpang untuk dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2-3 bakal mata tunas dengan bobot sekitar 25-60 g untuk jahe putih besar, 20-40 g untuk jahe putih kecil atau jahe emprit dan jahe merah. Kebutuhan benih per ha untuk jahe putih besar (panen tua) adalah 15 ton/ha, dan 7,5 ton/ha untuk jahe putih besar panen muda. Sedangkan jahe merah dan jahe emprit 5 ton.

Teknik Penyemaian Bibit Jahe

Pada budidaya tanaman jahe, untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang seragam, bibit jahe sebaiknya jangan langsung ditanam, tetapi terlebih dahulu harus dikecambahkan. Penyemaian bibit jahe dapat dilakukan dengan peti kayu atau ditaruh di atas bedengan.

Penyemaian Jahe pada Peti Kayu

Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit jahe tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu bibit jahe dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian diatasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi. Setelah 2-4 minggu, bibit jahe siap disemai.

Penyemaian Jahe pada Bedengan

Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1 ton (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Buat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit jahe disusun pada bedengan jerami lalu ditutup jerami, diatasnya diberi rimpang tutup dengan jerami, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit jahe pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit jahe berkualitas rendah. Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram.

Penyiapan Bibit Jahe

Pada budidaya jahe, sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit jahe dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.

Persiapan Lahan Budidaya Jahe

Pembukaan Lahan

Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari.

Pembentukan Bedengan dan Pemupukan Dasar

Pada budidaya tanaman jahe, untuk memudahkan pemeliharan sekaligus untuk mencegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan dengan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan. Budidaya tanaman jahe dengan sistem bedengan juga bertujuan untuk memudahkan serangan patogen, karena kelembaban tanah bisa dijaga dengan membuat pari-parit. Pemupukan dasar diberikan bersamaan dengan pembuatan bedengan menggunakan pupuk kandang yang sudah difermentasi sebanyak 40 ton/ha dan NPK 15-15-15 sebanyak 1,5 ton/ha. Akan lebih baik bila ditambahkan dengan agensia hayati seperti Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. untuk mencegah serangan bakteri maupun cendawan patogen. Pemberian humat dan fulvat akan berfungsi sebagai pembenah tanah, sehingga serapan unsur hara oleh tanaman bisa optimal.

Pengapuran

Pengapuran dilakukan pada saat pembentukan bedengan. Pada tanah dengan pH tanah rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, terutama fosfor (p) dan kalsium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau terikat oleh ion-ion tanah. Kondisi tanah yang masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp dan pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yang sangat diperlukan tanaman jahe untuk mengeraskan bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji.

Teknik Budidaya Jahe

Penentuan Pola Tanam

Budidaya tanaman jahe secara monokultur pada suatu daerah tertentu memang dinilai cukup rasional, mengingat nilai ekonomis jahe yang cukup tinggi, sehingga dengan teknis budidaya jahe monokultur diharapkan mampu memberikan produksi tinggi. Namun di daerah, budidaya tanaman jahe secara monokultur kurang dapat diterima karena selalu menimbulkan kerugian. Budidaya tanaman jahe secara tumpangsari dengan tanaman lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut :
  • Mengurangi kerugian yang disebabkan naik turunnya harga.
  • Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
  • Meningkatkan produktivitas lahan.
  • Memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah akibat rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu).

Pada praktek penanaman jahe di lapangan, petani biasa menanam jahe yang ditumpangsarikan dengan sayur-sayuran, seperti timun, bawang merah, cabe rawit, buncis, dll. Ada juga yang ditumpangsarikan dengan palawija, seperti jagung, kacang tanah dan beberapa kacang-kacangan lainnya.

Pembuatan Lubang Tanam

Pada budidaya tanaman jahe, untuk menghindari pertumbuhan jahe yang jelek, karena kondisi air tanah yang buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm untuk penanaman bibit jahe. Pembuatan bedengan memiliki tujuan utama untuk menghindari genangan air di sekitar area budidaya pada saat musim hujan. Genangan air di sekitar area budidaya dapat memicu timbulnya penyakit, baik penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri maupun penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur atau fungi.

Cara Menanam Jahe

Cara menanam jahe dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan. Jarak tanam yang digunakan untuk menanam jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm.

Perioda Tanam

Budidaya tanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Jahe yang ditanam pada musim kemarau akan meningkatkan biaya produksi yang besar, terutama biaya pengairan. Kalaupun lahan budidaya memiliki sumber air yang memadai, namun pertumbuhan tanaman jahe akan sedikit terhambat, karena suhu udara yang terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan tanaman muda.

Pemeliharaan Tanaman Jahe

Penyulaman

Penyulaman dilakukan pada umur 2–3 minggu setelah tanam. Jika penyulaman dilakukan terlalu tua, maka pertumbuhan tanaman jahe tidak akan seragam. Pertumbuhan yang tidak seragam akan menambah tingkat kesulitan dalam pemeliharaan, terutama dalam pengendalian hama penyakit tanaman.

Penyiangan

Penyiangan pertama pada budidaya tanaman jahe dilakukan ketika tanaman berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu (gulma) yang tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar.

Pembubunan

Tanaman jahe memerlukan tanah yang peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang jahe yang kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-5 anakan, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman jahe. Namun tergantung pada kondisi tanah dan banyaknya curah hujan.

Pemupukan Susulan

Tanaman jahe merupakan tanaman yang berumur panjang dibandingkan dengan tanaman cabe maupun tomat. Pada dasarnya pupuk dasar yang diberikan sudah mencukupi untuk menopang pertumbuhan tanaman tersebut. Akan tetapi dalam budidaya jahe secara intensif perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan hasil produksi yang signifikan. Oleh karena itu, pupuk susulan perlu diberikan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan, 4-6 bulan, dan 8-10 bulan menggunakan pupuk NPK 15-15-15 dengan dosis 20 gram per tanaman ditambah dengan pembenah tanah, seperti asam humat dan asam fulvat untuk membantu serapan unsur hara oleh akar sehingga pertumbuhan tanaman jahe bisa optimal.

Pengairan dan Penyiraman

Pada budidaya tanaman jahe, tanaman tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk pertumbuhan, akan tetapi pada awal petumbuhannya, tanaman jahe membutuhkan air yang cukup, sehingga saat memulai budidaya tanaman jahe diusahakan penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan September.

Defisiensi Unsur Hara

Unsur hara merupakan elemen penting untuk menopang pertumbuhan tanaman. Tanpanya, mustahil tanaman dapat tumbuh optimal, bahkan besar kemun...

Unsur hara merupakan elemen penting untuk menopang pertumbuhan tanaman. Tanpanya, mustahil tanaman dapat tumbuh optimal, bahkan besar kemungkinan tanaman akan mengalami kematian. Bisa dibilang nutrisi tanaman ini merupakan bahan makanan utama bagi tanaman. Dengan unsur-unsur tersebut tanaman mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.

KEKURANGAN UNSUR HARA PADA TANAMAN

Defisiensi atau kahat unsur hara adalah kekurangan meterial (bahan) yang berupa makanan bagi tanaman untuk melangsungkan hidupnya. Kebutuhan tanaman akan nutrisi berbeda-beda tergantung dari jenis tanamannya, ada jenis tanaman yang rakus makanan dan adapula yang biasa saja. Jika unsur-unsur dalam tanah tidak tersedia maka pertumbuhan tanaman akan terhambat dan produksinya pun menurun. Kita sebagai petani tidak mungkin mengecek kandungan hara tanah setiap saat untuk mengetahui ketersediaan unsur yang terkandung didalamnya, salah satu upayanya adalah dengan mengetahui gejala defisiensi pada tanaman.

Gejala Defisiensi Unsur Hara Pada Tanaman


Nitrogen (N)

Gejala kekurangan nitrogen ditandai dengan warna daun berubah menjadi hijau muda kemudian menjadi kuning sempurna, jaringan daun mati dan mengering berwarna merah kecoklatan. Pembentukan buah tidak sempurna, kecil-kecil, kekuningan, dan masak sebelum waktunya.

Cara penanganan kekurangan unsur nitrogen adalah dengan menambahkan pupuk kimia berupa pupuk urea (N=46%), ZA (N=21%), KNO3, NPK serta pupuk daun kandungan N tinggi.

Fosfor (P)

Gejala kekurangan fosfor ditandai dengan warna bagian bawah daun terutama tulang daun merah keunguan, daun melengkung, dan terpelintir (distorsi). Tepi daun, cabang dan batang juga berwarna ungu. Kekurangan unsur ini menyebabkan terhambatnya sistem perakaran dan pembuahan.

Cara penanganan kekurangan unsur fosfor adalah dengan menambahkan pupuk kimia SP36 (P=36%), pupuk NPK, MKP serta pupuk daun kandungan P tinggi.

Kalium (K)

Gejala kekurangan kalium ditandai dengan mengerutnya daun terutama daun tua meski tidak merata, tepi dan ujung daun menguning yang kemudian menjadi bercak coklat. Bercak daun ini akhirnya gugur, sehingga daun tampak bergerigi dan akhirnya mati. Buah yang terbentuk tidak sempurna, kecil, kualitas jelek dan tidak tahan simpan.

Cara penanganan kekurangan unsur kalium adalah dengan menambahkan pupuk kimia KCl (K=52%), NPK, MKP, serta pupuk daun kandungan K tinggi.

Sulfur (S)

Gejala kekurangan sulfur ditandai dengan warna daun muda memudar (klorosis), berubah menjadi hijau muda, kadang-kadang tampak tidak merata, menguning atau keputih-putihan. Pertumbuhan tanaman terhambat, kerdil, berbatang pendek, dan kurus.

Cara penanganan kekurangan unsur sulfur adalah dengan menambahkan pupuk kimia ZA (S=20%), Phonska (S=10%), serta pupuk daun yang mengandung unsur S.

Kalsium (Ca)

Gejala kekurangan kalsium ditandai dengan pertumbuhan kuncup yang terhenti dan mati, pertumbuhan tanaman lemah dan merana, tepi daun muda mengalami klorosis, buah muda banyak yang rontok dan masak sebelum waktunya, warna buah kurang sempurna.

Cara penanganan kekurangan unsur kalsium adalah dengan menambahkan kapur dolomite (Ca=38%), kalsium karbonat (Ca=90%), serta pupuk kalsium kandungan Ca 80-99%.

Magnesium (Mg)

Gejala kekurangan magnesium ditandai dengan daun tua yang semula hijau segar berubah menjadi kekuningan dan tampak pucat. Diantara tulang-tulang daun terjadi klorosis, warna berubah menguning dan terdapat bercak-bercak berwarna kecoklatan, sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau.

Cara penanganan kekurangan unsur magnesium adalah dengan menambahkan pupuk kimia kieserite, kapur dolomite (Mg=18%), serta pupuk daun yang mengandung unsur Mg.

Unsur Mikro

Besi (Fe). Gejala kekurangan besi ditandai dengan warna kuning pada daun-daun muda, pertumbuhan tanaman terhambat, daun berguguran dan mati pucuk, tulang daun yang berwarna hijau berubah kekuningan kemudian memutih, pertumbuhan tanaman seolah terhenti.
Boron (B). Gejala kekurangan boron ditandai dengan tepi daun mengalami klorosis mulai dari bawah daun kemudian mengering dan akhirnya mati. Pada tanaman bercabang, ruas tanaman memendek, batang keropos, pembentukan cabang tumbuh sejajar berdampingan.
Tembaga (Cu). Gejala kekurangan tembaga ditandai dengan daun berwarna hijau kebiru-biruan, ujung daun secara tidak merata ditemukan layu, terkadang terjadi klorosis meski jaringannya tidak mati, pertumbuhan tanaman kerdil dan gagal membentuk bunga.
Mangan (Mn). Gejala kekurangan mangan ditandai dengan pertumbuhan tanaman kerdil, daun berwarna kekuningan atau kemerahan, jaringan daun di beberapa tempat mati, serta biji yang terbentuk tidak sempurna.
Seng (Zn). Gejala kekurangan seng ditandai dengan daun tua berwarna kekuningan atau kemerahan, daun berlubang, mengering dan akhirnya mati.
Molibedenum (Mo). Gejala kekurangan molibdenum ditandai dengan warna daun memudar, keriput dan mengering, pertumbuhan tanaman seolah terhenti dan akhirnya mati.

Cara penanganan kekurangan unsur mikro adalah dengan menambahkan pupuk organik yang tinggi, pemberian pupuk organik cair untuk pemupukan susulan, serta penyemprotan pupuk daun dengan kandungan mikro lengkap.

Pupuk dan Pemupukan

Pupuk dan Pemupukan - Dalam budidaya pertanian, keberadaan pupuk merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang optimalisasi produksi...

Pupuk dan Pemupukan - Dalam budidaya pertanian, keberadaan pupuk merupakan faktor yang sangat penting untuk menunjang optimalisasi produksi yang telah ditetapkan. Namun, upaya memupuk yang dilakukan secara sembarangan dan tidak terukur justru dapat merugikan tanaman itu sendiri, bahkan tidak sedikit tanaman yang mengalami kematian akibat cara memupuk yang kurang tepat. Oleh karena itu, untuk mencapai keberhasilan usaha budidaya pertanian secara intensif, diperlukan pemahaman yang benar mengenai pupuk dan cara memupuk.

MENGENAL PUPUK

Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah karena berisi unsur hara untuk menggantikan unsur yang habis terserap tanaman. Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan sehingga tanaman mampu berproduksi dengan baik. Materialnya dapat berupa bahan organik ataupun anorganik. Jadi memupuk adalah menambahkan material dalam hal ini unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Berbeda dengan hormon tumbuhan atau ZPT (Zat Pengatur Tumbuh), pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sedangkan ZPT membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ZPT dapat ditambahkan ke dalamnya terutama pupuk buatan.

Pemupukan dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Agar pemberiannya tepat, perlu diperhatikan kebutuhan tanaman tersebut, sehingga tidak terlalu banyak bahan makananang diberikan karena jika terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat membahayakan tanaman.

Jenis-jenis pupuk

Berdasarkan kebutuhan tanaman, dikelompokkan menjadi:

Pupuk Makro

Adalah pupuk yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar, terdiri dari unsur makro primer dan sekunder. Unsur makro primer meliputi Nitrogen (N), Pospat (P), dan Kalium (K), sedangkan makro sekundernya meliputi Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), dan Sulfur (S).

Pupuk Mikro

Adalah pupuk yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah relatif kecil. Sekalipun dibutuhkan dalam jumlah sedikit, namun mutlak diperlukan tanaman, meliputi Klor (Cl), Besi(Fe), Mangan (Ma), Tembaga (Cu), Boron (B), Molibdenum (Mo), dan Seng (Zn).

Berdasarkan asalnya, dikelompokkan menjadi:

Pupuk Organik

Adalah pupuk yang terbuat dari bahan-bahan organik baik dari kotoran hewan atau manusia maupun dari sisa-sisa pelapukan tanaman.

Pupuk Anorganik

Adalah pupuk buatan pabrik yang dibuat dari bahan-bahan kimia berkadar hara tinggi. Contoh Pupuk Urea, SP36, KCl, dll.

Berdasarkan cara pemberiannya, dikelompokkan menjadi:

Pupuk Akar

Adalah pupuk yang diberikan ke dalam tanah agar terserap oleh akar tanaman, baik dalam bentuk padat maupun cair (kocoran).

Pupuk Daun

Adalah pupuk yang diberikan langsung ke tanaman melalui mulut daun (stomata) dengan cara disemprotkan.

PUPUK ORGANIK DAN PUPUK ANORGANIK

1. Pupuk Organik

Fungsi

  • Memperbaiki struktur tanah.
  • Meningkatkan daya serap tanah terhadap air.
  • Menciptakan kondisi yang baik untuk kehidupan di dalam tanah.
  • Sumber unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

Jenis Pupuk Organik

Pupuk Kandang
Adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan baik padat maupun cair. Kandungan unsur hara kotoran ternak berbeda-beda karena masing-masing ternak mempunyai sifat khas tersendiri. Kandungan unsur haranya dipengaruhi oleh jenis ternak, makanan dan usia ternak.

Kompos
Adalah pupuk yang berasal dari pelapukan bahan-bahan berupa dedaunan, jerami, alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah kota, dll. Proses pelapukan kompos dapat dipercepat melalui bantuan manusia. Pengomposan berarti merangsang perkembangan bakteri (jasad renik) untuk menguraikan bahan-bahan yang dikomposkan agar terurai menjadi senyawa lain. Dalam proses penguraian tersebut mengubah unsur hara yang terikat dalam senyawa organik sukar larut menjadi senyawa organik larut (tersedia) sehingga langsung bisa diserap tanaman. Pengomposan juga bertujuan menurunkan rasio C/N. Jika bahan organik yang memiliki rasio C/N tinggi tidak dikomposkan dan langsung diberikan ke dalam tanah maka proses penguraiannya akan terjadi di tanah, mengakibatkan CO2 dalam tanah meningkat sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman, bahkan pada tanah ringan mengakibatkan daya ikat terhadap air rendah serta struktur tanahnya berserat dan kasar.

Pupuk Hijau
Adalah pupuk yang berasal dari tanaman (hijauan) meliputi bagian daun, tangkai dan batang muda tanaman tertentu yang banyak mengandung unsur Nitrogen. Tanaman yang dikategorikan pupuk hijau mempunyai bakteri rhizobium yang menempel pada akar, terutama pada tanaman famili Leguminosae. Perlu diperhatikan cara aplikasi pupuk hijau untuk hasil yang lebih baik.

Humus
Adalah sisa tumbuhan berupa daun, akar, cabang dan batang yang sudah membusuk secara alami lewat bantuan mikroorganisme dan cuaca. Sifat humus tidak berbeda dari kompos yaitu mudah mengikat air dan gembur, sedangkan ciri khasnya berwarna hitam sampai coklat tua. Salah satu cara menambahkan humus ke dalam tanah adalah dengan membenamkan tanaman hijauan ke dalam tanah sehingga akan terjadi pembusukan yang membentuk humus.

Pupuk Mikroba
Adalah pupuk yang memanfaatkan inokulum-inokulum mikroba yang menguntungkan untuk sebagai dekomposer untuk mengurai bahan-bahan organik di dalam tanah, memperbaiki struktur tanah, serta melepaskan ikatan senyawa unsur hara penting bagi tanaman menjadi tersedia. Adanya peran serta mikroba menguntungkan ini menjadikan unsur tersedia dapat langsung diserap oleh akar tanaman. Ada beberapa jenis berdasarkan fungsinya, yaitu miktoba penambat N (nitrogen), Pelarut P (Phosphat), dan mikroba selulotik (kombinasi penambat N dan pelarut P).

2. Pupuk Anorganik

Keuntungan pemupukan anorganik :
  • Pemberiannya terukur, karena komposisi haranya tepat.
  • Pemberiannya sedikit karena kandungan haranya tinggi sehingga dapat menekan biaya pengangkutan.

Jenis Pupuk Anorganik

Tunggal
Adalah pupuk yang kandungan haranya hanya satu hara utama. Misal Urea mengandung unsur N (Nitrogen), SP36 mengandung unsur P (Pospat) dan KCl yang mengandung unsur K (Kalium).

Majemuk
Adalah pupuk yang kandungan hara utamanya lebih dari satu unsur. Misal ZA mengandung unsur N (Nitrogen) dan S (Sulfur), pupuk NPK mengandung unsur N (Nitrogen), P(Pospat) dan K (Kalium), DAP (Diamonium-phospat) mengandung unsur N (Nitrogen) dan P (Pospat). KNO3 mengandung unsur K (Kalium) dan N (Nitrogen), MKP (Mono Kalium Phospat) mengandung unsur P (pospat) dan K (Kalium).

CARA MEMUPUK

Cara memupuk sangat tergantung pada jenis tanaman dan kebiasaan teknik budidaya yang diterapkan karena kita tidak bisa mengetahui kebutuhan tanaman secara tepat dan kandungan unsur hara tersedia dalam tanah. Semua hanya berdasarkan pengamatan fisik, kecuali jika kita menganalisa kandungan hara tanah ke laboratorium.

Ditabur atau disebar

Diterapkan untuk jenis butiran (granule) atau serbuk. Memupuk cara ini dilakukan pada tanaman yang jarak tanamnya rapat atau tidak teratur dan pada tanaman yang sistem perakarannya dangkal seperti tanaman padi.

Larikan

Bikin larikan untuk memupuk, masukkan ke dalam larikan kemudian tutup lagi dengan tanah agar tidak mudah menguap. Memupuk cara ini dilakukan pada tanaman yang jarak tanamnya lebar dan teratur seperti jagung, kacang tanah, dll.

Dimasukkan ke lubang tanam

Digunakan untuk tanaman tahunan yang sebelumnya diawali dengan pembuatan lubang tanam. Masukkan ke dalam lubang kemudian tutup lagi dengan tanah.

Pengocoran

Diterapkan jenis cair atau padat yang pemberiannya dilarutkan dulu dalam air. Keuntungan memupuk cara ini adalah pemupukan langsung diserap oleh akar tanaman yang kemudian diolah oleh daun.

Hormon Tumbuhan Atau ZPT (Zat Pengatur Tumbuh)

Dalam dunia pertanian, penggunaan hormon tumbuhan atau dikenal juga dengan istilah ZPT merupakan faktor pendukung yang dapat memberikan kon...

Dalam dunia pertanian, penggunaan hormon tumbuhan atau dikenal juga dengan istilah ZPT merupakan faktor pendukung yang dapat memberikan kontribusi besar dalam keberhasilan usaha budidaya pertanian. Namun, penggunaan hormon ini harus dilakukan dengat tepat. Pemahaman mengenai fungsi dan peran hormon terhadap laju pertumbuhan maupun perkembangan tanaman sangat penting. Oleh karena itu, pada artikel ini akan kami uraikan mengenai ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) dengan harapan bisa memberikan kontribusi dalam usaha agribisnis pertanian.

APA ITU HORMON TUMBUHAN?

Hormon yang sering disebut juga fitohormon merupakan sekumpulan senyawa organik, baik yang terbentuk secara alami maupun buatan. ZPT dalam kadar sangat kecil mampu menimbulkan suatu reaksi atau tanggapan baik secara biokimia, fisiologis maupun morfologis, yang berfungsi untuk mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, maupun pergerakan taksis tanaman atau tumbuhan baik dengan mendorong, menghambat, atau mengubahnya. "Kadar kecil" yang dimaksud berada pada kisaran satu milimol per liter sampai satu mikromol per liter. ZPT berbeda dengan unsur hara atau nutrisi tanaman, baik dari segi fungsi, bentuk, maupun senyawa penyusunnya.

Secara ilmiah, penggunaan istilah hormon tumbuhan sebenarnya mengadopsi analogi fungsi hormon pada binatang. Dilihat dari cara produksinya, hormon pada tumbuhan berbeda dengan hormon pada binatang yang dihaslkan dari jaringan spesifik berupa kelenjar endokrin, tetapi ZPT ini dihasilkan oleh suatu jaringan nonspesifik, biasanya dari jaringan merismatik, yang dapat diproduksi jika mendapatkan rangsangan. Penyebaraan hormon pada seluruh jaringan tumbuhan bisa terjadi dengan sangat mudah, karena penyebarannya bisa melalui ruang antarsel atau disebut dengan sitoplasma, sehingga dalam penyebarannya tersebut, Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) tidak harus melalui sistem pembuluh pengangkut.

Secara individu, tumbuhan akan memproduksi sendiri hormon setelah mengalami rangsangan. Proses produksi hormon dilakukan secara endogen oleh tumbuhan. Rangsangan yang dapat mempengaruhi produksi hormon misalnya lingkungan. Lingkungan merupakan faktor penting yang dapat memicu tumbuhan untuk memproduksi hormon. Setelah menghasilkan hormon hingga pada ambang konsentrasi tertentu, maka sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai menunjukkan reaksi sehingga akan menimbulkan perubahan fisiologis pada tumbuhan. Dengan demikian, tumbuhan akan mulai menunjukkan ekpresi atas pengaruh suatu rangsangan yang telah memicu produksi hormon tersebut. Dari sudut pandang evolusi tumbuhan, hormon tumbuhan merupakan suatu mekanisme pertahanan diri terhadap pengaruh-pengaruh yang diterimanya sehingga dapat terus mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya.

Selain dapat dipengaruhi hormon yang diproduksinya sendiri, tumbuhan juga dapat dipengaruhi oleh hormon yang diterimanya dari luar. Pemberian ZPT dari luar sistem individu disebut juga dengan hormon eksogen, yaitu dengan memberikan bahan kimia sintetik yang dapat berfungsi dan berperan seperti halnya hormon endogen, sehingga mampu menimbulkan rangsangan dan pengaruh pada tumbuhan seperti layaknya fitohormon alami.

Disisi lain zat pengatur tumbuh dapat berfungsi sebagai prekursor, yaitu senyawa yang dapat mendahului laju senyawa lain dalam proses metabolisme, dan merupakan bagian dari proses genetik tumbuhan itu sendiri. Oleh karena itu, untuk membedakan pengertian hormon pada tumbuhan dengan hormon pada binatang, maka dalam dunia pertanian dipakai istilah Zat Pengatur Tumbuh tumbuhan atau ZPT atau dalam bahasa Inggris disebut plant growth regulator/substances. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepentingan intensifikasi dalam budidaya di sektor pertanian, maka ZPT banyak digunakan terutama untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil produksi.

JENIS HORMON TUMBUHAN

Beberapa fungsi Hormon yang bisa diterapkan dalam dunia pertanian diantaranya ialah:

1. AUKSIN

Hormon Auksin banyak ditemukan pada akar, ujung batang, dan bunga. Fungsi hormon auksin dalam petumbuhan tanaman adalah sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang ujung meristem. Auksin berperan penting dalam pertumbuhan, sehingga dapat digunakan untuk memacu kecepatan pertumbuhan tanaman pada budidaya yang dilakukan secara intensif.

Dengan fungsi dan peran penting hormon auksin tersebut, maka dalam dunia pertanian sering digunakan seperti dalam membantu proses pertumbuhan (baik pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang), untuk memecah masa dormansi sehingga dapat mempercepat perkecambahan pada biji, membantu proses pembelahan sel sehingga dapat digunakan untuk mempercepat pembesaran jaringan tumbuhan, mempercepat pemasakan buah, serta untuk mengurangi jumlah biji dalam buah. Hormon auksin akan bekerja secara sinergis dengan dua hormon lain, yaitu sitokinin dan giberelin.

Tumbuhan yang mengalami etiolase atau kekurangan cahaya matahari dan hanya pada salah satu sisinya saja yang mendapat sinar mata hari, maka pertumbuhan sisi yang terkena sinar matahari akan lebih lambat dibanding dengan sisi yang tidak terkena sinar matahari. Hal ini disebabkan kerja hormon auksin terhambat oleh cahaya matahari. Sementara pada sisi tumbuhan yang tidak terkena sinar matahari biasanya akan tumbuh lebih cepat dan lebih panjang, karena hormon ini bekerja dengan optimal dan tidak terhambat oleh pengaruh cahaya matahari. Produksi hormon auksin yang berlebihan tersebut akan cenderung mengarahkan pertumbuhan pada ujung tumbuhan yang tidak terkena matahari menuju ke arah cahaya atau disebut proses fototropisme, sehingga produksi hormon ini dapat dikendalikan oleh individu tumbuhan tersebut.

Dengan pemahaman tersebut, maka dapat dibuat analogi secara sederhana mengenai tumbuhan yang kelebihan hormon auksin. Jika suatu tumbuhan ditempatkan di tempat yang kekurangan sinar matahari, maka pertumbuhannya akan lebih cepat dibanding dengan di tempat terbuka. Bekerjanya hormon auksin pada tumbuhan yang tumbuh dengan kekurangan sinar matahari mengakibatkan pertumbuahan batang yang lebih besar dan panjang dengan warna daun agak kekuningan, dan struktur batang tampak lebih lemah atau lemas. Sedangkan tumbuhan di tempat terbuka, produksi hormon auksin terhambat oleh sinar matahari sehingga pertumbuhannya sedikit terhambat, tetapi memiliki struktur batang yang kokoh dan warna hijau daun yang lebih gelap.

Secara umum, sistem kerja hormon auksin adalah menginisiasi pemanjangan dan pembesaran sel serta memacu protein tertentu yg ada di membran plasma sel untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ mengaktifkan enzim tertentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen dengan rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yang masuk secara osmosis melalui dinding sel. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa auksin merupakan salah satu zat pengatur tumbuh yang banyak mempengaruhi proses fisiologi, seperti pertumbuhan, pembelahan dan diferensiasi sel serta sintesa protein.

Menurut Gardner, dkk., 1991, tumbuhan memproduksi hormon auksin dalam jaringan meristem aktif, yaitu jaringan tumbuhan yang memiliki sel aktif yang dapat membelah dengan cepat. Jaringan meristem pada tumbuhan, misalnya tunas di ketiak daun, pucuk tanaman, daun muda, dan buah. Setelah diproduksi dalam jaringan tersebut, auksin akan menyebar ke seluruh bagian tumbuhan dengan arah penyebaran dari bagian atas tumbuhan ke bagian bawah hingga mencapai titik tumbuh akar. Penyebaran auksin tersebut melalui jaringan pembuluh tapis (floem) atau jaringan parenkhim. Auksin merupakan hormon yang juga dikenal dengan istilah Indole Acetic Acid (IAA), atau asam indolasetat, sebagai auksin utama pada tanaman, yang mengalami proses biosintesis dari asam amino prekursor triptopan, dengan hasil perantara sejumlah substansi yang secara alami mirip auxin (analog) tetapi mempunyai aktifitas lebih kecil dari IAA seperti IAN (Indolaseto nitril), TpyA (Asam Indolpiruvat) dan IAAld (Indolasetatdehid). Proses biosintesis auxin dibantu oleh enzim IAA-oksidase.

IAA atau C10H9O2N, sebagai rumus kimia auksin, merupakan hasil isolasi yang dilakukan pada tahun 1928, dengan menggunakan tepung sari bunga yang tidak aktif. Dengan ditemukannya IAA, maka untuk perkembangan selanjutnya seiring dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dapat diciptakan auksin sintesis, seperti Amiben atau Kloramben (Asam3-amino2, 5–diklorobenzoat), Hidrazil atau 2,4-D (asam-Nattalenasetat), Bonvel Da2, 4-Diklorofenolsiasetat), Pikloram/Tordon (asam4–amino–3,5,6–trikloro–pikonat), dan NAA (asam (asam 3,6-Dikloro-O-anisat/dikambo).

Fungsi auksin dalam pertumbuhan tanaman

  • Pemberian auksin pada biji atau benih akan memecah dormansi dan akan merangsang proses perkecambahan biji. Perendaman biji/benih dengan auksin juga dapat meningkatkan kuantitas hasil panen.
  • Memacu proses terbentuknya akar serta pertumbuhan akar dengan lebih baik.
  • Auksin akan merangsang dan mempertinggi prosentase timbulnya bunga dan buah.
  • Merangsang terjadinya proses Partenokarpi. Partenokarpi adalah suatu kondisi dimana tumbuhan mampu membentuk buah tanpa proses fertilisasi atau penyerbukan, sehingga dengan pemberian hormon auksin dapat menghasilkan buah tanpa biji.
  • Mengurangi gugurnya buah sebelum waktunya.
  • Memecah dormansi pucuk/apikal, yaitu suatu kondisi dimana pucuk tumbuhan atau akar tidak mau berkembang.

2. SITOKININ

Hormon sitokinin berperan penting dalam merangsang pembelahan sel tumbuhan. Sitokonin berasal dari kata cytokinin yang berarti terkait dengan pembelahan sel. Senyawa dari hormon sitokinin yang pertama kali ditemukan adalah kinetin. Pada awalnya, kinetin diperoleh dari ekstrak sperma burung bangkai, namun kemudian diketahui bahwa kinetin juga bisa ditemukan pada manusia dan tumbuhan. Selain kinetin, senyawa lain yang dapat berfungsi sebagai hormon sitokinin adalah zeatin. Zeatin bisa diperoleh dari ekstrak biji jagung yang masih muda. Kemudian pada perkembangan berikutnya, zeatin juga diketahui sebagai komponen aktif utama pada air kelapa. Dengan demikian, air kelapa juga memiliki kemampuan untuk merangsang pembelahan sel. Sitokinin alami lain misalnya adalah 2iP. Sitokinin alami merupakan turunan dari purin. Sitokinin sintetik kebanyakan dibuat dari turunan purin pula, seperti N6-benziladenin (N6-BA) dan 6-benzilamino-9-(2-tetrahidropiranil-9H-purin) (PBA).

Fungsi sitokinin bagi pertumbuhan tanaman

  • Memacu pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dengan merangsang proses pembelahan dan pembesaran sel.
  • Merangsang perkecambahan dengan memecah fase dormansi pada biji, sehingga pertumbuhan bibit dapat berlangsung dengan cepat.
  • Memacu pertumbuhan tunas-tunas baru.
  • Hormon sitokinin dapat menunda penuaan pada hasil panen, sehingga daya tahan hasil panen lebih lama.
  • Menaikkan tingkat mobilitas unsur-unsur dalam tumbuhan.
  • Sintesis pembentukan protein akan meningkat dengan pemberian hormon sitokinin.

3. GIBERELIN

Jenis hormon yang mempunyai kemiripan sifat dengan auksin ini merupakan zat pengatur tumbuh yang dapat ditemukan pada hampir semua siklus hidup tumbuhan. Giberelin sering disebut dengan GA (gibberellic acid) atau asam giberelat.

Dalam tumbuhan, melalui xilem dan floem hormon giberelin (GA) ditransportasikan ke seluruh bagian tumbuhan. Giberelin banyak dijumpai pada tumbuhan paku, jamur, lumur, gymnospermae, dan angiospermae (terdapat pada biji muda, pucuk batang, ujung akar, dan daun muda).

Zat pengatur tumbuh ini dapat ditemukan dalam dua fase utama yaitu giberelin aktif (GA Bioaktif) dan giberelin nonaktif. GA bioaktif inilah yang mengontrol pertumbuhan dan perkembangan seluruh tumbuhan baik akar, daun maupun batang tanaman, seperti pengembangan benih, perkecambahan biji, pertumbuhan tunas, pertumbuhan daun, merangsang pembungaan, perkembangan buah, perpanjangan batang, serta deferensiasi akar.

Pemberian giberelin di bawah tajuk tumbuhan dapat meningkatkan laju fotosintesis. Daun tumbuhan berkembang secara signifikan karena hormon ini memacu pertumbuhan daun, terjadi peningkatan pembelahan sel dan pertumbuhan sel yang mengarah pada perkembangan daun. Selain itu juga memacu pemanjangan batang tumbuhan.

4. ETILENA/ETENA/GAS ETILEN

Zat pengatur tumbuh (ZPT) ini adalah satu-satunya hormon yang hanya terdiri dari satu substansi saja, yaitu etena. Etena atau etilena ini merupakan senyawa alkena yang paling sederhana karena hanya terdiri dari 2 atom karbon, dan 4 atom hidrogen. Unsur-unsur ini terhubung oleh ikatan rangkap. Adanya ikatan rangkap penghubung inilah etena juga disebut sebagai olefin (hidrokarbon tak jenuh). Pada tumbuhan, senyawa etilen dijumpai dalam bentuk gas sehingga disebut juga sebagai gas etilen. Pada buah, proses pembusukan mengeluarkan gas ini, karena gas etilen dihasilkan oleh tumbuhan untuk melakukan proses senesens. Proses senesens merupakan proses penuaan yang irreversible (tidak dapat kembali), akhirnya menuju pembusukan. Selain etilen berperan dalam pematangan buah, gas etilen juga berperan dalam pengguguran daun.

Dalam pertumbuhan, etilen mempunyai banyak fungsi, yaitu membantu pemasakan buah, memacu pembungaan, merangsang pemekaran bunga, merangsang pertumbuhan akar dan batang tumbuhan, merangsang absisi (pengguguran) buah dan daun, memacu perkecambahan biji, menghambat pemanjangan batang kecambah, memperkokoh pertumbuhan batang tumbuhan, serta mengakhiri masa dormansi.
Bersama-sama dengan giberelin, etilen berfungsi dalam mengatur perbandingan bunga jantan dan betina pada tumbuhan berumah satu.

Sebetulnya para petani sudah sering memanfaatkan etena dalam kehidupan sehari-hari, seperti pada saat melakukan pemeraman buah.
Bahkan dalam beberapa masalah mereka juga menggunakan etilen sintetik seperti ethephon (asam 2-kloroetil-fosfonat) dengan merk dagang Ethrel untuk membantu pemasakan cabe, beta-hidroksil-etilhidrazina (BOH) untuk memacu pembentukan bunga pada tanaman nanas, maupun pengarbitan buah untuk mempercepat proses pemasakan.

5. TRIAKONTANOL

Triakontanol (TRIA) merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, terdiri dari 30 karbon dan merupakan alkohol primer jenuh.
ZPT ini berpotensi meningkatkan hasil tanaman, meskipun mekanisme kerjanya belum sepenuhnya diketahui. Pada berbagai penelitian, triakontanol berfungsi meningkatkan rasio gula asam pada budidaya jeruk, serta mampu meningkatkan produksi teh.
Penyemprotan hormon triakontanol dengan konsentrasi rendah pada daun kecambah seperti pada tanaman jagung, tomat, padi menunjukkan peningkatan pertumbuhan.

6. INHIBITOR

Inhibitor merupakan salah satu jenis zpt yang menghambat atau menurunkan laju reaksi kimia, tersebar di setiap organ tumbuhan, dan menghambat pertumbuhan batang. Pada fase dormansi inhibitor bekerja dengan baik. Hormon jenis ini juga ditemukan pada fase pertumbuhan pucuk tumbuhan dan fase perkecambahan.

Tumbuhan akan membentuk inhibitor secara alami yang disebut dengan asam ABA (Asam absisat). Meskipun demikian penambahan hormon juga dihasilkan oleh cendawan dan alga hijau. Asam absisat memiliki 15 atom karbon dan merupakan molekul seskuiterpenoid.
Penerapan hormon inhibitor dalam budidaya pertanian adalah ketika akan mencegah pertunasan baru dan memperbesar umbi tanaman. Diharapkan dengan ZPT ini, pertumbuhan umbi menjadi optimal. Penggunaan inhibitor banyak dimanfaatkan petani untuk membantu mengoptimalkan hasil tanaman berumbi seperti pada budidaya kentang, budidaya bawang, dan sejenisnya.

7. PACLOBUTRAZOL

Paclobutrazol merupakan salah satu jenis hormon yang berfungsi menghambat biosistesis giberelin. Pemakaian hormon ini dapat membantu pohon berbuah di luar musim. Pertumbuhan vegetatif tanaman terhambat yang akhirnya memacu pertumbuhan generatif. Pohon berhenti tumbuh (terhambat) diikuti munculnya kuncup bunga yang akhirnya menghasilkan buah.

Efektifitas Pemakaian Pestisida

Pestisida kimiawi hingga saat ini masih dianggap sebagai satu-satunya senjata pamungkas oleh para pelaku budidaya untuk menghadapi serangan ...

Pestisida kimiawi hingga saat ini masih dianggap sebagai satu-satunya senjata pamungkas oleh para pelaku budidaya untuk menghadapi serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) karena kompleksnya permasalahan-permasalahan yang sering dijumpai di lapangan.

BAGAIMANA MENGGUNAKAN PESTISIDA SECARA EFEKTIF?

Para pemakai pestisida, sekalipun sudah sangat akrab dengan pestisida, bahkan tingkat ketergantungannya sangat tinggi, di lapangan masih banyak dijumpai kesalahan-kesalahan pemakaian pestisida. Karena pengetahuan mereka tentang pestisida masih sangat kurang.

Penggunaan pestisida harus seefisien dan seefektif mungkin, agar biaya produksi dapat ditekan seminimal mungkin karena seperti kita ketahui harga pestisida sangat mahal di pasaran. Di samping itu, penggunaan tidak tepat dapat berdampak negatif bagi manusia, karena pestisida mengandung bahan aktif yang berbahaya bagi kesehatan, dapat menyebabkan keracunan pestisida yang berujung pada kematian, untuk itu penggunaan pestisida harus terukur. Lebih dari itu, pemakaian pestisida secara berlebihan juga menyebabkan hama penyakit menjadi kebal terhadap bahan aktif tertentu sehingga menyebabkan kesulitan dalam pengendalian hama penyakit tanaman. Sebagai petani, ada hal-hal yang perlu diketahui untuk menghemat pemakaian pestisida terutama berkaitan dengan penekanan biaya produksi, diantaranya :

Pilih Jenis Pestisida Tepat Sasaran

Ketahuilah terlebih dahulu OPT yang sedang menyerang tanaman, karena jenis dan cara OPT merusak tanaman sangat menentukan jenis formulasi dan cara kerja pestisida yang sebaiknya dipilih. Disarankan menggunakan pestisida berspektrum sempit.

Kenali Bahan Aktif Pestisida

Pilihlah pestisida paling murah. Satu bahan aktif pestisida mempunyai merk dagang yang beraneka ragam dan harga yang berbeda-beda, padahal fungsinya sama. Kenali bahan aktif dan dosis pemakaian yang tertera pada kemasan.

Berikut ini cara memilih dua merk dagang pestisida berbahan aktif sama dengan dosis dan harga yang berbeda. Misal :

Pestisida A : Harga Rp. 200.000 dosis 2ml/lt kemasan 100ml
Pestisida B : Harga Rp. 230.000 dosis 1,5ml/lt kemasam 100ml

Cara memilih :

Harga pestisida A per ml adalah Rp. 2000
Harga pestisida B per ml adalah Rp. 2300

Kalau kita menggunakan sprayer berkapasitas 25 lt, berarti :

Pestisida A : 2ml x 25 x Rp. 2000 = Rp. 100.000
Pestisida B : 1,5ml x 25 x Rp. 2300 = Rp. 86.250

Jadi, harga Pestisida B lebih murah daripada harga pestisida A karena dosisnya lebih rendah, meskipun sekilas tampak lebih mahal pestisida B (Rp. 230.000) daripada pestisida A (Rp. 200.000).

Pencegahan Kekebalan

Penyemprotan pestisida harus dilakukan berseling baik bahan aktif maupun cara kerjanya, jangan menggunakan bahan aktif pestisida yang sama secara berturut-turut karena akan menimbulkan kekebalan pada OPT. Gantilah bahan aktif pestisida setiap kali penyemprotan pestisida.

Gunakan Dosis Yang Tepat

Dosis/konsentrasi pemakaian pestisida dapat dilihat pada kemasan dari merk pestisida yang digunakan, gunakan dosis terendah terlebih dahulu kemudian tingkatkan sesuai dengan umur tanaman dan perkembangan di lapangan. Untuk menghemat biaya produksi gunakan gelas ukur atau takaran yang tepat. Jangan meningkatkan dosis yang lebih tinggi dari petunjuk di kemasan pestisida karena tidak akan meningkatkan efektifitas pengendalian tetapi justru dapat merusak dan meracuni tanaman, dan bahkan akan mempertinggi tingkat kekebalan OPT terhadap bahan aktif pestisida. Jika hama penyakit tanaman tidak terkendali baru tingkatkan secara perlahan dan terukur dan ganti bahan aktif yang berbeda (bukan merk dagang yang berbeda). Sekalipun melakukan peningkatan dosis/konsentrasi, penyemprotan pestisida harus dilakukan secara berseling (penggunaan bahan aktif yang berbeda-beda setiap kali melakukan penyemprotan).

Waktu Aplikasi Pestisida yang Tepat

Waktu yang baik untuk penyemprotan pestisida adalah pagi dan sore hari. Hindari sinar matahari terik dan cuaca mendung agar penyemprotan pestisida lebih efektif.

Teknik Grafting Sawo

Grafting yaitu teknik penyambungan antara batang atas (scion) varietas sawo berkualitas dengan batang bawah (root stock) dari tanaman sefami...

Grafting yaitu teknik penyambungan antara batang atas (scion) varietas sawo berkualitas dengan batang bawah (root stock) dari tanaman sefamili yang lebih tahan serangan hama penyakit maupun kekeringan. Untuk melakukan grafting pada tanaman keras, perlu diperhatikan kualitas kedua tanaman, baik bagian atas maupun bagian bawahnya. Pada dasarnya, cara menyambung tanaman mempunyai tujuan untuk menghasilkan bibit tanaman yang unggul sehingga secara teknik penyambungan (grafting) tanaman dicari bagian atas berkualitas, berbuah lebat (produktifitas tinggi), rasanya enak (manis), dll yang memiliki sifat unggul lainnya sekalipun rentan terhadap serangan penyakit terutama penyakit akar. Sedangkan bagian bawah dipilih tanaman dengan perakaran yang kuat, tahan serangan hama penyakit, serta kokoh sehingga mampu menopang buah yang lebat. Berikut ini beberapa pilihan varietas sawo sebagai referensi untuk melakukan grafting atau penyambungan dua pohon, sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat untuk dihasilkan bibit yang optimal.

VARIETAS SAWO

Sawo Manila (Manilkara zapota)

Pohon berumur panjang, besar dan rindang. Pohon ini bercabang rendah dengan batang berkulit kasar berwarna coklat kehitaman. Buahnya bersisik kasar coklat dan mudah mengelupas, bertangkai pendek, kulit buah tipis, daging buah manis, lembut kadang memasir berwarna coklat kemerahan sampai kekuningan.

Sawo ini baik ditanam di ketinggian 0-2500 mdpl. Tahan terhadap kekeringan, berbunga dan berbuah sepanjang tahun, akan tetapi pada umumnya terdapat satu atau dua musim berbuah puncak.

Sawo Duren (Sapotaceae)

Sawo jenis ini sering dikenal dengan nama sawo apel, sawo ijo atau apel ijo. Pertumbuahan tanaman relatif cepat, tinggi hingga 30 m, dengan batang berkayu, silindris, tegak, pepagan berpermukaan kasar berwarna cokelat, abu-abu gelap sampai keputihan. Buah berbentuk bulat hingga bulat telur sungsang, kulit buah agak tebal, liat, licin mengkilap berwarna coklat keunguan atau hijau kekuningan sampai keputihan. Daging buah putih atau keunguan, lembut dan banyak mengandung sari buah, manis.

Sawo Mentega (Pouteria campechiana)

Sawo jenis ini sering dikenal dengan nama sawo ubi. Pohon berukuran sedang, tinggi 20 m. Buah berbentuk gelendong, bulat telur, bulat telur sungsang, sampai membulat, berkulit tipis, licin seperti berlilin, kaku, dan berwarna kuning bila masak. Daging buah berwarna kuning, lembap atau agak kering menepung, berbau harum agak samar, manis.

Sawo Kecik (Manilkara kauki)

Pohon berukuran sedang, tinggi 15-20 m, tahan kekeringan. Biasanya berfungsi sebagai tanaman hias dan pelindung. Baik ditanam pada dataran rendah hingga sedang.

Sawo Tanjung (Mimusops elengi)

Pohon berukuran sedang, tinggi 15m, berbunga harum semerbak dan bertajuk rindang, biasa ditanam di taman-taman dan pinggir jalan, tahan kekeringan. Biasanya berfungsi sebagai tanaman hias dan pelindung. Buah kecil-kecil berwarna kuning keungu-unguan, berbentuk gelendong, bulat telur panjang, dan jarang dimakan.

CARA MELAKUKAN GRAFTING

Teknik atau cara melakukan grafting atau penyambungan pada pohon sawo sebenarnya sangat mudah, hanya saja kebiasaan dan rutinitas praktek saja yang menentukan tingkat keberhasilan. Adapun caranya dengan memilih tanaman yang akan dijadikan batang atas (tanaman produktif) dan bawah (tanaman tahan) dengan ukuran sama. Perhatikan cara melakukan grafting berikut ini:

Batang Bawah

Potonglah ujung batang setinggi 20 cm dari permukaan tanah dengan pisau tajam dan steril. Kemudian sayat membentuk huruf V sepanjang 5cm. Bagian ini siap menerima sambungan dari batang atas.

Batang Atas

Potong tanaman batang atas setinggi 15 cm dari ujung tanaman. Sayat hingga pangkal batangnya meruncing. Batang atas ini segera disisipkan pada batang bawah.

Pertemuan antara batang atas dengan batang bawah diikat menggunakan tali rafia atau seal tape menutupi luka sayatan.
Tutup bagian bagian atas dengan plastik seperlunya sebagai tudung. Setelah 10 hari tudung dibuka. Bila sambungan tetap segar berwarna hijau berarti berhasil.

Petunjuk Aplikasi Pestisida

Pestisida adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu. Dalam dunia pertanian, pestisida memegang peranan pen...

Pestisida adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu. Dalam dunia pertanian, pestisida memegang peranan penting demi terwujudnya pencapaian sasaran yang telah ditetapkan. Hampir semua sektor pertanian, terutama sektor budidaya tanaman, baik hortikultura maupun tanaman panggan, menggunakan pestisida sebagai salah satu sarana pengendalian organisme pengganggu tanaman atau OPT, bahkan banyak para petani yang bergantung pada peran pestisida. Namun, penggunaan secara tidak terukur dan tidak memahami cara kerja pestisida yang digunakan justru dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan, baik pengguna maupun konsumen dari produk pertanian yang bersangkutan. Oleh karena itulah, artikel ini sengaja kami buat dengan harapan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam dunia pertanian.

Klik untuk melihat DAFTAR BAHAN AKTIF PESTISIDA

CARA KERJA PESTISIDA

Racun Kontak

Pestisida jenis ini akan bekerja dengan baik jika terkena atau kontak langsung dengan OPT sasaran. Untuk jenis insektisida, penggunaan racun kontak sangat efektif untuk mengendalikan serangga yang menetap, seperti ulat, kutu daun, dan semut. Racun ini kurang bekerja baik terhadap serangga-serangga yang mempunyai mobilitas tinggi, seperti lalat buah, kutu kebul, dan belalang.

Racun Pernapasan

Cara kerja racun pernapasan hanya ada pada insektisida dan akan bekerja jika terhisap melalui organ pernafasan. Waktu penyemprotan paling efektif adalah ketika hama sasaran sedang berada pada puncak aktifitasnya, sehingga dengan pernapasan yang semakin cepat maka semakin banyak pula racun yang dihisap.

Racun Perut atau Racun Lambung

Racun dalam pestisida jenis ini akan bekerja jika bagian tanaman yang sudah disemprot termakan oleh hama/serangga sasaran. Beberapa rodentisida dan insektisida bekerja dengan cara ini.

Racun Sistemik

Pestisida jenis ini akan bekerja jika racun yang disemprotkan ke bagian tanaman sudah terserap masuk ke dalam jaringan tanaman baik melalui akar maupun daun sehingga dapat membunuh OPT yang berada di dalam jaringan tanaman, seperti bakteri/fungi. Pada insektisida sistemik, serangga akan mati kalau sudah memakan atau menghisap cairan tanaman yang sudah menyerap racun. Cairan atau bagian tanaman yang dimakan akan menjadi racun lambung bagi serangga. Racun sistemik sangat cocok untuk mengendalikan serangga penghisap atau serangga yang sulit dikendalikan menggunakan racun kontak.

Herbisida Purnatumbuh dan Pratumbuh

Pada herbisida purna tumbuh hanya akan bekerja pada bagian tanaman yang sudah memiliki organ sempurna, seperti akar, batang, dan daun. Sedangkan herbisida pra tumbuh akan mematikan biji gulma yang belum berkecambah.

FORMULASI PESTISIDA

Water Dispersable Granule (WDG)

Bentuk butiran halus, merupakan formulasi kering yang mudah dilarutkan dalam air. Tetapi formulasi ini dalam air agak kurang stabil sehingga mudah mengendap.

Emulsifiable Concentrate (EC)

Dibentuk dengan mencampurkan bahan aktif pestisida yang hanya larut dalam minyak dengan penambahan emulsi. Dengan demikian bahan aktif yang hanya larut dalam minyak dapat larut dalam air dan membentuk cairan seperti susu. Formulasi ini sangat stabil sehingga tidak dibutuhkan pengadukan berulang-ulang.

Salt Concentrate (SC)

Dibentuk dengan menggabungkan bahan aktif dari turunan (derifatif) garam dengan air. Bersifat cepat larut dan menyebar merata dalam air.

Wettable Powder (WP)

Dibentuk dari bahan aktif dengan daya larut rendah dan mengandung bahan tambahan (filler). Bahan aktif direkatkan pada bahan tambahan dengan bahan perekat.

Granule (G)

Berbentuk butiran padat dengan ukuran bervariasi sehingga formulasi ini mudah ditebarkan. Merupakan campuran antara bahan aktif dengan butiran yang mampu mengikat ion, seperti butiran liat atau vermikulit, atau dengan cara melapisi bahan aktif dengan polimer seperti kapsul.

Ultra Low Volume (ULV)

Formulasi ini berbentuk cair dengan kandungan bahan aktif sangat tinggi. Dirancang untuk disemprotkan dengan alat khusus, yaitu ULV.

KARAKTERISTIK PESTISIDA

Efektifitas Pestisida

Merupakan daya bunuh pestisida terhadap OPT. Pestisida yang baik memiliki daya bunuh yang cukup untuk mengendalikan OPT dengan dosis rendah sehingga memperkecil dampat buruk terhadap lingkungan.

Selektifitas

Merupakan kemampuan pestisida membunuh beberapa jenis organisme. Disarankan untuk menggunakan pestisida yang bersifat selektif atau berspektrum sempit. Dimana pestisida tersebut hanya membunuh OPT sasaran tanpa membahayakan organisme lain termasuk musuh alami OPT.

Fototoksisitas

Merupakan suatu efek samping aplikasi pestisida yang dapat menimbulkan keracunan bagi tanaman, ditandai dengan pertumbuhan abnormal setelah aplikasi pestisida. Oleh karena itu tidak boleh menggunakan pestisida secara tidak terukur atau berlebihan.

Residu Pestisida

Adalah kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun setelah penyemprotan. Residu terlalu lama akan berbahaya bagi manusia dan lingkungan, sedangkan residu yang terlalu pendek akan mengurangi efektifitas pestisida dalam pengendalian OPT.

Persistensi

Kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun di dalam tanah. Pestisida yang memiliki persistensi tinggi akan sangat berbahaya bagi lingkungan.

Resistensi

Merupakan kekebalan OPT terhadap pestisida. Pestisida yang memiliki potensi resistensi tinggi sebaiknya tidak digunakan. Untuk mencegah resistensi pada hama/penyakit terhadap salah satu jenis pestisida, sebaiknya dilakukan penggantian bahan aktif setiap kali aplikasi pestisida.

LD 50 atau Lethal Dosage 50%

Besarnya dosis yang dapat mematikan 50% dari jumlah mamalia percobaan. Pestisida yang memiliki LD 50 tinggi berarti hanya dengan dosis yang sangat tinggi pestisida tersebut dapat mematikan mamalia. Dalam penerapan PHT disarankan untuk memilih pestisida dengan LD 50 tinggi.

Kompatibilitas

Adalah kesesusaian antara satu jenis pestisida untuk dicampur dengan pestisida lain tanpa menimbulkan dampak negatif dari pencampuran itu.

PERJALANAN PESTISIDA SETELAH PENYEMPROTAN

Setelah melakukan penyemprotan, maka pestisida akan terkena pengaruh lingkungan. Dengan mengetahui pengaruh yang akan terjadi setelah pestisida disemprotkan, maka akan sangat membantu untuk membuat program penyemprotan sehingga pemakaian pestisida bisa mengikuti prinsip 4 tepat.

Setelah penyemprotan, kemungkinan pertama yang akan terjadi adalah tiupan angin terhadap kabut semprot, sehingga pestisida akan jatuh di tempat yang tidak diharapkan. Walaupun kabut semprot dapat mengenai sasaran, tetapi sebarannya sudah tidak merata, atau terlalu banyak kabut semprot yang terbuang, sehingga terjadi pemborosan pestisida. Kalau hal ini terjadi pada herbisida, maka tanaman utama akan beresiko terkena kabut semprot. Oleh karena itu disarankan penyemprotan tidak dilakukan saat angin bertiup kencang. Kemungkinan lain yang akan terjadi adalah :
  1. Run off, sebagian kabut semprot yang membasahi daun akan mengalir dan jatuh ke tanah, tetesan pestisida yang jatuh ke tanah ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
  2. Penguapan, sebaiknya penyemprotan tidak dilakukan saat matahari terik.
  3. Fotodekomposisi, penguraian pestisida menjadi bentuk tidak aktif karena pengaruh cahaya, sehingga efektifitas pestisida berkurang.
  4. Penyerapan oleh partikel tanah, menyebabkan tertimbunnya sisa pestisida di dalam tanah sehingga menyebabkan pencemaran tanah. Selain itu penyerapan oleh tanah juga akan menurunkan efektifitas pestisida yang memang ditujukan untuk mengendalikan OPT yang terdapat di dalam tanah.
  5. Pencucian pestisida oleh air hujan dan terbawa ke dalam lapisan tanah bagian bawah sehingga mencemari sumber air tanah.
  6. Reaksi kimia, yaitu perubahan molekul pestisida menjadi bentuk tidak aktif atau tidak beracun.
  7. Perombakan oleh mikroorganisme, bahan pembentuk pestisida setelah jatuh ke tanah akan menjadi bagian tubuh mikroorganisme.

PETUNJUK PENCAMPURAN PESTISIDA

  1. Jangan mencampur pestisida di tempat tertutup, lakukan pencampuran di tempat terbuka.
  2. Jangan menyimpan campuran pestisida, pencampuran pestisida dengan air hanya dilakukan saat penyemprotan.
  3. Gunakan air bersih dan tidak mengandung kotoran yang dapat menyumbat nozel.
  4. Masukkan air terlebih dahulu ke dalam tangki, baru pestisida dimasukkan dan diaduk.
  5. Jangan menggunakan pestisida yang terlalu lama disimpan dan sudah mengalami perubahan fisik, seperti terbentuknya garam di sekitar tutup botol atau terjadi perubahan warna.
  6. Jangan melakukan pencampuran pestisida satu dengan lainnya jika belum yakin bahwa kedua jenis pestisida tersebut dapat dicampur. Lakukan pengetesan, jika setelah pencampuran dua jenis pestisida terbentuk endapan, atau terbentuk lapisan yang tidak menyatu, seperti minyak dengan air, atau seperti santan pecah, maka kedua jenis pestisida tersebut tidak kompatible untuk dicampur.
  7. Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih yang mempunyai cara kerja sama, sebagai contoh: Racun pernafasan dengan racun pernafasan, kontak dengan kontak atau sistemik dengan sistemik.
  8. Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih dalam satu golongan, sebagai contoh: piretroid dengan piretroid atau karbamat dengan karbamat.
  9. Buatlah campuran pestisida sesuai perhitungan luas areal yang akan disemprot.
  10. Jangan meningkatkan dosis atau konsentrasi lebih tinggi dari kisaran yang tertera pada label. Jika pada dosis atau konsentrasi tertinggi sesuai yang tercantum pada kemasan suatu pestisida tidak lagi efektif mengendalikan OPT sasaran, maka disarankan untuk mengganti dengan bahan aktif yang berbeda.

PENGGUNAAN SURFAKTAN ATAU LEM

Penggunaan surfaktan sangat diperlukan dalam aplikasi pestisida. Permukaan daun yang memiliki lapisan lilin atau bulu-bulu halus menyebabkan kabut semprot tidak dapat melapisi secara sempurna. Oleh karena itu pemakaian surfaktan sangat disarankan pada budidaya yang berorientasi keuntungan. Surfaktan berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan air, sehingga kabut semprot yang jatuh di atas permukaan daun tidak membentuk butiran, tetapi menyebar ke seluruh permukaan daun. Selain itu surfaktan juga berfungsi sebagai perekat.

Daftar Bahan Aktif Pestisida

Berikut ini kami sajikan informasi mengenai bahan aktif pestisida, untuk memudahkan para petani dalam membeli pestisida dengan mengenal baha...

Berikut ini kami sajikan informasi mengenai bahan aktif pestisida, untuk memudahkan para petani dalam membeli pestisida dengan mengenal bahan aktifnya. SEMOGA BERMANFAAT!

BAHAN AKTIF
JENIS
BAHAN AKTIF

GOLONGAN
Abamektin
Insektisida
Akarisida
Amidin,
Avermectin
Alfametrin
(Alfasipermetrin)

Insektisida

Piretroid
Almunium fosetil
Fungisida
Organofosfat
Amitraz
Insektisida
Akarisida
Amidin
Amorphous
Insektisida
Difenil
Asam fosfit
Fungisida
-
Asam oksoklinik
Bakterisida
Antibiotik
Asam tolklofos
Fungisida
Pirimidin
Asefat
Insektisida
Organofosfat
Asetamiprid
Insektisida
Piridin
Asibensolar-s-metil
Fungisida
Tiadiazol
Azakonazol
Fungisida
Triazol
Azoksistrobin
Fungisida
Pirimidin
Belerang
Fungisida
Anorganik
Benfukarb
Insektisida
Karbamat
Benomil
Fungisida
Benzimidazol,
MBC
Bensultap
Insektisida
Tiofulfonat
Betasiflutrin
Insektisida
Piretroid
Betasipermetrin
Insektisida
Piretroid
Bifentrin
Insektisida
Piretroid
Bisultap
Insektisida
Neristoksin
BPMC (fenobukarb)
Insektisida
Karbamat
Bupirimat
Fungisida
Pirimidin
Buprofezin
Insektisida
Tiadiazin
Deltametrin
Insektisida
Piretroid
Diafentiuron
Insektisida
Tiourea
Diazinon
Insektisida
Organofosfat
Difenokonazol
Fungisida
Azol
Diflubenzuron
Insektisida
Urea
Diklorfos
Insektisida
Organofosfat
Dikofol
Insektisida
Akarisida
Organoklor,
difenil
Dimehipo
Insektisida
Neristoksin
Dimetoat
Insektisida
Organofosfat
Dimetomorf
Fungisida
Morfolin
Dimikonazol
Fungisida
Triazol
Dinotefuran
Insektisida
Tiosulfonat
Emamektin benzoat
Insektisida
Avermectin
Endosulfan
Insektisida
Organoklorin
Epoksikonazol
Fungisida
Diskarboksimid
Esfenfalerat
Insektisida
Piretroid
Etion
Insektisida
Organofosfat
Etiprol
Insektisida
Organofosfat
Etofenproks
Insektisida
Difenil
Fenamidon
Fungisida
Ditiokarbamat,
organomangan,
organoseng
Fenarimol
Fungisida
Pirimidin
Fenbukonazol
Fungisida
Triazol
Fenfalerat
Insektisida
Piretroid
Fenitrotion
Insektisida
Organofosfat
Fenpiroksimat
Akarisida
Pirazol
Fenpropatrin
Insektisida
Akarisida
Amidin,
piretroid
Fention
Insektisida
Organofosfat
Fentoat
Insektisida
Organofosfat
Fipronil
Insektisida
Fenil-pirazol
Flufenoksuron
Insektisida
Urea
Flusilazol
Fungisida
Triazol,
organosilikon
Flutalonil
Fungisida
Anilida,
trifluorometil
Folpet
Fungisida
Ftalimid,
organoklor
Formotion
Insektisida
Organofosfat
Ftalida
Fungisida
Asam ftalat
Gammasihalotrin
Insektisida
Piretroid,
trifenorometil
Heksaflumuron
Insektisida
Bensoyl,
urea
Heksakonazol
Fungisida
Triazol
Heksitiazoks
Insektisida
Tiozolidin
Imidakloprid
Insektisida
Nitroimidazolidin,
neonikotinoid
Iminoktadin
Fungisida
Diskarboksimid
Iprodion
Fungisida
Diskarboksimid
Iprovalikarb
Fungisida
Karbamat
Isoksation
Insektisida
Organofosfat,
azoksazol
Kaptan
Fungisida
Ftalimid
Karbaril
Insektisida
Karbamat
Karbendazim
Fungisida
Benzimidazol,
MBC
Karbofuran
Insektisida
Karbamat
Karbosulfan
Insektisida
Akarisida
Karbamat,
organofosfat
Kartophidrokloroda
Insektisida
Karbamat
Kasugamisin
Fungisida
Bakterisida
Antibiotik
Klofentezim
Insektisida
Tetrazin
Klorfenapil
Insektisida
Pirol

Klorfluazuron

Insektisida
Urea,
trifluorometil
Klorotalonil
Fungisida
Kloronitile
Klorpirifos
Insektisida
Organofosfat,
piridin
Lamdasihalotrin
Insektisida
Piretroid
Lufenuron
Insektisida
Trifluorometil,
urea
Malation
Insektisida
Organifosfat
Maneb
Fungisida
Ditiokarbamat,
organomangan
Mankozeb
Fungisida
Ditiokarbamat,
organomangan,
organomangan
Mefenoksam
Fungisida
Pirimidin
Merkaptodimetur
Insektisida
Karbamat
Metaflumizon


Metalaksil
Fungisida
Asilalanin
Metalaksil-M
Fungisida
Asilalanin
Metalkarb
Insektisida
Karbamat
Metidation
Insektisida
Orgabofosfat,
tiadiazol
Metil tiofanat
Fungisida
Karbamat,
benzimidazol,
MBC
Metipren
Insektisida
Juvenile,
homone,
mimic
Metiram
Fungisida
Ditiokarbamat,
organoseng
Metoksifenoksida
Insektisida
Diazilhidrazin
Metomil
Insektisida
Karbamat
Mikobutanil
Fungisida
Triazol
MIPC (isopokarb)
Insektisida
Karbamat
Monosultap
Insektisida
Neriktoksin
Novaluron
Insektisida
Benzoyl,
urea
Oksitetrasiklin
Bakterisida
Antibiotik
PCNB quintozin)
Fungisida
Quintizin
Permetrin
Insektisida
Piretroid
Pimetrozin
Insektisida
Triazin
Piraklofos
Insektisida
Organofosfat
Piridaben
Insektisida
Phridazinon
Piridafention
Insektisida
Organofosfat
Pirimifos metil
Insektisida
Organofosfat,
pirimidin
Poksim
Insektisida
Organofosfat,
nitrila
Profenofos
Insektisida
Organofosfat
Prokimidon
Fungisida
Anilida,
diskarboksimid
Propaksur
Insektisida
Karbamat
Propamokarb hidroklorida
Fungisida
Karbamat
Propargit
Akarisida
Fenoksi
Propikonazol
Fungisida
Triazol
Propineb
Fungisida
Karbamat,
organoseng
Protiofos
Insektisida
Organofosfat
Siflutrin
Insektisida
Piretroid
Simoksanil
Fungisida
Urea
Sipermetrin
Insektisida
Piretroid
Siprokonazol
Fungisida
Triazol
Siromazin
Insektisida
Triazin
Spiromesifen
Akarisida
Ditiokarbamat
Streptomisin sulfat
Bakterisida
Antibiotik
Tebukonazol
Fungisida
Triazol
Tembaga
Fungisida
Anorganik
Tetasipermetrin
Insektisida
Piretroid
Tetradifon
Akarisida
Organoklor,
difenil
Tetrakonazol
Fungisida
Azol
Tiakloprid
Insektisida
Neonikotinoid
Tiametoksam
Insektisida
Triazol,
neonikotinoid
Tiodikarb
Insektisida
Karbamat
Tiram
Fungisida
Ditiokarbamat,
organoseng
Triadimefon
Fungisida
Triazol
Triadimenol
Fungisida
Triazol
Triazofos
Insektisida
Organofosfat
Tridemorf
Fungisida
Morfolin
Triflumizol
Fungisida
Trifluorometil,
imidazol
Triflumuron
Insektisida
Benzoyl,
urea
Triklorfon
Insektisida
Organofosfat
Validamisin
Fungisida
Antibiotik
Zineb
Fungisida
Ditiokarbamat,
organoseng
Ziram
Fungisida
Ditiokarbamat,
organoseng
Zoxamide
Fungisida
Pirimidin

Kategori Pertanian, Perikanan, dan Peternakan

Kategori Otomotif, Teknologi, dan Bisnis

Mobil (20) Gadget (15) Motor (12) Internet (11) Teknologi (6) LAIN-LAIN (1)