Menu Diet Penderita Diabetes Melitus

Pernahkah Anda melihat daftar makanan terbaik untuk penderita penyakit diabetes melitus? Atau pernahkah Anda bertanya-tanya mengenai menu di...

Pernahkah Anda melihat daftar makanan terbaik untuk penderita penyakit diabetes melitus? Atau pernahkah Anda bertanya-tanya mengenai menu diet yang cocok bagi penderita diabetes? Anda perlu menyiapkan rencana menu makanan secara pribadi dalam porsi yang tepat. Pada artikel ini, kami akan menyajikan daftar makanan terbaik untuk diet diabet.

Semua makanan dalam daftar yang kami sajikan di bawah ini, memiliki indeks glikemik (GI) rendah dan menyediakan nutrisi penting yang dibutuhkan, seperti kalium, serat, magnesium, vitamin A ( karotenoid ), C, dan E.

Kacang
Kacang-kacangan mengandung banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Mengandung serat cukup tinggi, untuk memenuhi 1/3 kebutuhan harian Anda akan serat, cukup dengan setengah cangkir kacang-kacangan. Selain itu, biji-bijian juga merupakan sumber magnesium dan kalium. Bahkan beberapa jenis kacang-kacangan juga mengandung asam lemak omega 3.

Kacang dianggap sebagai sayuran bertepung, tapi ½ cangkir kacang mampu menyediakan protein seperti halnya satu ons daging tanpa lemak jenuh. Untuk menghemat waktu Anda dapat menggunakan kacang kalengan, tetapi Anda harus mengeringkan dan membilasnya terlebih dahulu untuk mengurangi kadar sodium.

Buah jeruk
Jeruk, lemon dan limau. Pilih sesuai kesukaan Anda dan jadikan sebagai bagian dari dosis harian serat larut dan vitamin C.

Ubi Jalar
Ubi jalar merupakan makanan bertepung yang kaya akan vitamin A dan serat .Ubi jalar dapat dijadikan sebagai makanan alternatif dengan GI rendah.

uah Beri
Pilih buah favorit Anda, bisa blueberry, strawberi atau varietas lain. Buah beri dari varietas apapun diperkaya kandungan antioksidan, vitamin dan serat.

Tomat
Buah tomat diperkaya dengan beberapa nutrisi penting, seperti vitamin C, sat besi, atau vitamin E. Anda bisa mengkonsumsi tomat sesuai dengan selera, misalnya dibuat saus, jus, campuran sayur, maupun sebagai buah segar.

Ikan Tinggi Asam Lemak Omega-3
Untuk kategori ini, ikan yang paling banyak disukai masyarakat adalah salmon. Mengkonsumsi ikan salmon secara rutin kurang lebih 6 ons dalam seminggu dapat memberikan suplai asam lemak omega 3 yang diperlukan oleh tubuh.

Su5u bebas lemak dan Yogurt
Semua orang tahu su5u dapat membantu membangun tulang dan gigi yang kuat. Selain kalsium, banyak produk su5u yang merupakan sumber vitamin D.

Tentu saja daftar menu tersebut masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan diet penderita diabetes, oleh karena itu, bagi pembaca yang memiliki pengalaman lain mengenai menu diet diabetes melitus, kami harapkan untuk bersedia berbagi informasi, dengan mengirimkan pengalaman Anda ke email kami melalui kontak form yang tersedia di bawah.

Resiko Komplikasi Penyakit Diabetes

Berdasarkan data dari American Diabetes Association, penyakit diabetes ternyata berpotensi menimbulkan komplikasi beberapa penyakit berat la...

Berdasarkan data dari American Diabetes Association, penyakit diabetes ternyata berpotensi menimbulkan komplikasi beberapa penyakit berat lain, seperti penyakit jantung dan stroke, tekanan darah tinggi, kebutaan, penyakit ginjal, penyakit sistem saraf (neuropati), dan resiko amputasi. Bahkan data statistik American Diabetes Association, menyebutkan bahwa pada tahun 2007, penyakit diabet berkontribusi pada 231.404 kasus kematian di Amerika Serikat.

Diabetes melitus mengakibatkan penyakit jantung dan stroke

- Pada tahun 2004, penyakit jantung tercatat mencapai 68% dari kematian terkait diabetes di kalangan orang berusia 65 tahun atau lebih.
- Pada tahun 2004, stroke tercatat mencapai 16% dari kematian terkait diabetes di kalangan orang berusia 65 tahun atau lebih.
- Orang dewasa dengan diabetes memiliki tingkat kematian penyakit jantung sekitar 2 sampai 4 kali lebih tinggi daripada orang dewasa tanpa diabetes.
- Risiko stroke 2 sampai 4 kali lebih tinggi di antara orang-orang dengan diabetes.

Diabetes dapat memicu tekanan darah tinggi

Pada 2005-2008, orang dewasa berusia 20 tahun atau lebih tua dengan diabetes yang dilaporkan sendiri, 67% memiliki tekanan darah lebih besar dari atau sama dengan 140/90 mmHg atau obat resep yang digunakan untuk hipertensi.

Penyakit diabetes melitus dapat mengakibatkan kebutaan

- Diabetes adalah penyebab utama dari kasus baru kebutaan di kalangan orang dewasa berusia 20-74 tahun.
- Pada tahun 2005-2008, 4,2 juta (28,5%) penderita diabetes berusia 40 tahun atau lebih memiliki retinopati diabetes, dan dari jumlah ini, hampir 0,7 juta (4,4​​% dari mereka dengan diabetes) memiliki retinopati diabetes lanjut yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan berat .

Komplikasi penyakit ginjal

- Diabetes adalah penyebab utama gagal ginjal, terhitung 44% dari kasus baru pada tahun 2008.
- Pada tahun 2008, 48.374 orang dengan diabetes mulai pengobatan untuk penyakit ginjal stadium akhir di Amerika Serikat.
- Pada tahun 2008, total 202.290 orang dengan penyakit ginjal stadium akhir akibat diabetes yang hidup menjalani dialisis kronis atau dengan transplantasi ginjal di Amerika Serikat.

Penyakit sistem saraf (neuropati)

Sekitar 60-70% dari orang yang menderita diabetes melitus memiliki kerusakan sistem saraf dari bentuk paling ringan hingga berat.

Resiko amputasi dari serangan diabetes

Lebih dari 60% dari nontraumatic amputasi tungkai bawah, terjadi pada orang yang menderita penyakit diabet.
Pada tahun 2006, sekitar 65.700 nontraumatic amputasi tungkai bawah dilakukan pada penderita.

Skizofrenia Paranoid

Seorang penderita skizofrenia paranoid mengalami gangguan berupa hilangnya kontak dengan kenyataan atau realitas. Dibanding dengan jenis ski...

Seorang penderita skizofrenia paranoid mengalami gangguan berupa hilangnya kontak dengan kenyataan atau realitas. Dibanding dengan jenis skizofrenia lainnya, penderita skizofrenia paranoid memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik. Namun, gangguan kejiwaan ini adalah kondisi serius yang harus ditangani, dapat berlangsung seumur hidup dengan berbagai resiko komplikasi, termasuk mencelakai diri sendiri atau orang lain.

Diduga, penyebab gangguan skizofrenia paranoid ini adalah respon pertahanan psikologis (mekanisme pertahanan diri) yang berlebihan terhadap berbagai stress atau konflik terhadap egonya dan biasanya sudah terbentuk sejak usia muda.

Tanda dan gejala umum skizofrenia paranoid antara lain:
  • Halusinasi pendengaran, yaitu halusinasi seperti mendengar suara-suara bisikan.
  • Delusi, seperti meyakini ada yang mengawasi terus-menerus, diberi perintah untuk menjalankan tugas, dll.
  • Suka berdebat dengan argumentasi yang tidak masuk akal dan berputar-putar.
  • Merasa diri penting, atau memandang orang lain salah.
  • Kemarahan
  • Kegelisahan
  • Emosi datar
  • Kekerasan
  • Pikiran dan perilaku mencelakai diri sendiri atau orang lain

Gejala Kunci Skizofrenia Paranoid

Delusi dan halusinasi adalah gejala yang paling membedakan skizofrenia paranoid dengan skizofrenia jenis lain. Gejala khas yang dialami oleh penderita skizofrenia paranoid antara lain:

Delusi
Delusi yang paling umum dialami adalah delusi penganiayaan, delusi keagungan, dan delusi pengaruh. Delusi penganiayaan, misalnya mereka meyakini: bahwa mereka sedang diawasi oleh orang lain, lingkungan sosial tidak menerima kehadirannya, teman kerjanya akan mencelakainya, atau ada sesuatu yang mengganggu tubuhnya. Delusi keagungan, misalnya mereka meyakini: sedang mendapatkan misi penting dari pemerintah, menjadi orang terkenal, menjalankan tugas-tugas suci, atau menjadi tokoh penting dan memiliki banyak pengikut. Delusi pengaruh, misalnya ada kekuatan dari luar yang sendang mengendalikan tubuh, pikiran dan tindakannya.

Mereka berpegang kuat pada keyakinan yang salah atau tidak terbukti. Delusi berpotensi mengakibatkan agresi atau tidak kekerasan jika mereka meyakini sedang menjalankan tugas untuk melakukan sesuatu dan harus membela diri terhadap orang yang mengganggu tugasnya.

Delusi juga bisa berupa keyakinan pernah betemu dengan seseorang, atau akan bertemu seseorang, padahal hal tersebut tidak nyata atau mungkin hanya salah persepsi terhadap sesuatu. Tidak jarang penderita skizofrenia paranoid mengalami delusi yang membuat dirinya meyakini bahwa ia adalah sosok atau figur besar, seperti pemimpin, tokoh agama, panglima perang, nabi, malaikat, bahkan tidak jarang yang meyakini bahwa dirinya adalah Tuhan.

Halusinasi
Halusinasi yang umum terjadi pada penderita paranoid skizofrenia adalah gangguan panca indera pendengaran. Halusinasi suara, dimana penderita mendengar suara-suara tertentu yang orang lain tidak mendengarnya. Suara-suara tersebut mungkin tunggal dan berupa bisikan maupun suara orang banyak. Suara-suara tersebut mungkin berbicara pada dirinya, atau dapat juga berbicara satu sama lain. Suara-suara tersebut bisa berupa teror, ejekan, kritik berkelanjutan, komentar kejam, atau bahkan dapat memberikan perintah kepada penderita untuk melakukan sesuatu. Bahkan biasanya penderita tidak mampu menolak perintah halusinasi tersebut. Bila seseorang mengalami skizofrenia paranoid, halusinasi suara tersebut tampak nyata, bahkan penderita mungkin akan berbicara sendiri dengan suara-suara tersebut atau bahkan berteriak untuk balas memakinya.

Gejala motorik
Gejala motorik dapat dilihat dari ekpresi wajah yang aneh dan khas, mata melotot, diikuti dengan gerakan tangan, jari dan lengan yg aneh dan juga dapat dilihat dari cara berjalannya.

Penarikan sosial (social withdrawl)
Pada umumnya penderita skizofrenia paranoid mudah untuk tidak menyukai orang lain, atau menganggap orang lain tidak menyukai dirinya. Keyakinan dan perasaan tersebut membuat dirinya sulit untuk memiliki banyak teman.

Penyebab Dan Gejala Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan akibat kelainan otak yang mempengaruhi fungsi otak, perasaan, dan tingkah laku. Seseorang yang mengalam...

Skizofrenia adalah gangguan kejiwaan akibat kelainan otak yang mempengaruhi fungsi otak, perasaan, dan tingkah laku. Seseorang yang mengalami skizofrenia biasanya kesulitan atau bahkan tidak mampu menilai realitas, sehingga tidak mampu membedakan antara kejadian nyata dan tidak nyata atau khayalan. Karena tidak bisa membedakan antara hal yang nyata (real) dan hal tidak nyata (unreal), penderita akan mengalami kebingungan yang luar biasa. Skizofrenia merupakan penyakit otak yang disebabkan karena ketidakseimbangan zat kimia (neurotransmiter) di dalam otak yang membuat terganggunya saraf-saraf otak sehingga menimbulkan salah persepsi.

Penyakit ini dikategorikan sebagai gangguan jiwa psikotik, pada umumnya bisa dilihat dengan ciri hilangnya kemampuan afektif atau respon untuk bersikap dan memberikan penilaian; menarik diri dari hubungan interpersonal atau cenderung menutup diri atau menyendiri; sering diikuti dengan gejala delusi, yaitu keyakinan yang salah dan dipegang teguh tentang sesuatu meskipun tidak memiliki dasar dalam realitas maupun latar belakang budaya, sosial, dan agamanya. Delusi akan menciptakan kondisi seorang penderita untuk melakukan tindakan yang mengacaukan situasi atau tidak wajar. Selain itu, penderita skizofrenia biasanya juga mengalami halusinasi atau gangguan persepsi panca indera, sehingga seolah-olah penderita merasa seperti mendengar bisikan, melihat bayangan, mencium bau tertentu, atau merasa seperti ada sesuatu yang mengganggu tubuhnya. Beberapa pasien akan mengalami kekhawatiran, ketakutan, atau kecemasan yang sangat menggangu padahal sebenarnya sumber kekhawatiran, ketakutan, atau kecemasan tersebut tidak beralasan dan tidak bisa dibuktikan.

Seseorang yang menderita skizofrenia paranoid akan mengalami delusi dan halusinasi yang meneror atau mengintimidasi dirinya. Seperti merasa diawasi terus-menerus, mendapatkan bisikan-bisikan yang bersifat meneror, atau diikuti ketika pergi kemanapun. Halusinasi juga bisa berupa perasaan pernah betemu dengan seseorang, atau akan bertemu seseorang, padahal hal tersebut tidak nyata atau mungkin hanya salah persepsi terhadap sesuatu. Tidak jarang penderita skizofrenia paranoid mengalami delusi yang membuat dirinya meyakini bahwa ia adalah sosok atau figur besar, seperti pemimpin, tokoh agama, panglima perang, nabi, malaikat, bahkan tidak jarang yang meyakini bahwa dirinya adalah Tuhan.

Penyebab Skizofrenia

Skizofrenia disebabkan oleh pengaruh neurobiologis, yang mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan neurotransmiter (zat kimia) di dalam otak, seperti ketidakseimbangan dopamin, yaitu salah satu sel kimia otak.

Belum ada data yang meyakinkan mengenai penyebab terjadinya ketidakseimbangan neurotransmiter. Namun berdasarkan fakta, seseorang yang memiliki sejarah keturunan dari penderita skizofrenia akan memiliki resiko besar untuk mengalami gangguan kejiwaan ini. Selain itu, masalah infeksi pada bayi dalam kandungan atau selama persalinan juga dapat menjadi kemungkinan penyebab skizofrenia. Stres berat dan berkepanjangan yang dialami seseorang juga dapat menjadi faktor pemicu skizofrenia, seperti keinginan atau cita-cita yang tidak tercapai, kesedian yang terlalu mendalam atau terus menerus, tekanan berat, atau konflik berkepanjangan.

Perasaan tegang, kesulitan untuk tidur, mengalami masalah konsentrasi, baik kesulitan berkonsentrasi maupun kesulitan untuk mengalihkan konsentrasi, mengisolasi dan menarik diri, suasana hati yang tidak tenang dan berlarut-larut, juga dapat menjadi pemicu skizofrenia apabila seseorang yang sedang mengalaminya tidak segera keluar dari kondisi-kondisi tersebut.

Stresor lingkungan dan faktor genetik memiliki andil yang besar terhadap serangan skizofrenia. Stresor psikososial terlalu berat juga dapat mengakibatkan seorang yang normal dapat menderita skizofrenia jika mereka tidak mampu mengatasinya. Obat-obatan terlarang, atau ganja juga dapat menimbulkan gejala psikotik.

Gejala Skizofrenia

Gejala skizofrenia pada setiap orang berbeda-beda, karena delusi dan halusinasi yang dialami juga berbeda-beda. Latar belakang kultural maupun agama dapat mempengaruhi bentuk gejala penyakit ini. Secara umum, gejala penyakit ini dibedakan menjadi dua kelas, yaitu gejala positif dan negatif. Gejala positif merupakan manifestasi yang dapat diamati oleh orang lain, seperti gangguan kognitif, delusi, dan halusinasi. Sedangkan gejala negatif sulit atau tidak dapat diamati oleh orang lain, seperti perubahan ketidakmampuan mengekspresikan emosi, tidak ada semangat untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati aktivitas kesehariannya, atau berkurangnya kemampuan berbicara (alogia) sehingga kadang terbata-bata.

Kategori Pertanian, Perikanan, dan Peternakan

Kategori Otomotif, Teknologi, dan Bisnis

Mobil (20) Gadget (15) Motor (12) Internet (11) Teknologi (6) LAIN-LAIN (1)